Supardi A Shawwab Dosen STAIN Salatiga
  • Inspirasi Qur’aniy S. AL-Fiil

    Inspirasi Quraniy: Surat al-fiil (Gajah)

     

    Surat pendek ini mengisahkan pasukan bergajah. Setiap kisah dalam al-Qur’an pastinya bukan hanya bersifat informatif belaka, tetapi Pasti ada pesan moral universal implisit yang musti digali dan diambil ibrah, ‘hikmah’ pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan pembacanya atau dengan bahasa lain dikontekstualisasikan.

    Ayat pertama surat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang bersifat retoris (pertanyaan yang tidak membutuhan jawaban, karena jawaban sudah terang, cetho welo-welo). Ini berarti mengajak pembaca untuk berfikir, merenungkan, tadabbur, merefleksikan kisah yang disajikan dan mengkontektualisasikan dalam realitas kehidupan nyata.

    (1) Alam tara kayfa fa’ala rabbuka bi-ash-haabi alfiili ‘Tidakkah Engkau melihat bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?’ Gajah dalam surat ini secara faktual adalah pasukan gajah raja Abrahah yang akan menghancurkan Ka’bah. Gajah binatang yang kuat dan bisa saja meluluh lantakkan Ka’bah. Secara  metaforis, gajah bisa jadi dimunculkan sebagai simbol untuk menggambarkan kepongahan keangkuhan ‘kesombongan’ manusia, mungkin karena jabatan, kekuasaan, harta, kecantikan atau ketampananannya yang memikat.

    Pertanyaan retoris tersebut selanjutnya dijawab oleh Allah dengan pertanyaan retoris pula supaya pembaca berfikir merenung kembali “Bukankah Allah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?”.

    Intisari– sejauh yang bisa ditangkap penulis– segala bentuk kepongahan dengan segala tipu daya yang dibuat pada dasarnya akan sia-sia. Contohnya Fir’aun yang pongah dengan kekuasaan pada akhirnya binasa, Qorun yang pongah dengan hartanya juga terbenam, Zulaikha yang pongah karena kecantikannya sehingga ia tebar pesona pada Nabi Yusuf A.S. dengan segala tipu dayanya akhirnya juga sia-sia, harus menanggung malu. Jadi, Ashhabil Fiil, jika kita maknai secara metaforis atau simbolis, maka ahs-habil fiil, mungkiiin dimaknai ahs-habil Maal ‘pemilik harta, ash-haabil Jaah,’yang berpangkat’ ash habil Jamaal ‘yang cantik/ganteng ’ tapi pongah atau ‘sok’, atau ash-habil ilm-‘yang pintar tapi keminter’, dan melakukan tipu daya atau tebar pesona untuk menunjukkan kepongahannya itu.

    Apakah akibat dari kepongahan itu? Ayat selanjutnya mengisahkan “wa-arsala ‘alayhim thayran abaabiila, tarmiihim bihijaaratin min sijjiilin, faja’alahum ka’ashfin ma/kuulin.dan kami mengirimkan burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu yang dibakar, sehingga menjadikannya seperti daun yang dimakan ulat. Itulah akibat kepongahan dengan segala intrik dan tipu daya-nya akan berakibat buruk dan lenyap segala yang dipongahkan/disombongkan. Ma’kuuul “Termakan” oleh tipu daya mereka sendiri sebagaimana daun yang dimakan ulat. Habis semua. Semula mungkin dipuja, setelah terkuat muslihatnya maka akan berbondong-bondong semua orang menghujatnya, atau semula bersahabat tapi akhirnya meninggalkannya, kayak daun dimakan ulat, ghilatun eh…‘’ngghilani’.

    Gampilipun ‘Gesang niku mboten susah kekatahen nggaya sing mboten-mboten’ ‘hidup itu tidak perlu kebanyakan tingkah ‘gaya’ dengan tipu daya, mengada-ada tentu pada saatnya semua akan terkuak tipudayanya. Selanjutnya, kalau bolih ikut bertanya pada seperti pertanyaan ayat pertama “Lalu bagaimana dengan Ash-Habil-Fortuner?”(Niki Mas kopinipun…, tiba-tiba istriku, mengejutkanku di lamunan pagiku dengan kopinya. panjenengan niku maos al-Qur’an, nopo al-Koran kok ashabil fiil dados ash-habil Fortuner? Ah.. Dik. WaAllahu A’lam bi Shawwaab. (Sekedar inspirasi dari Supardi Abdillah Shawwab).

    Published on January 4, 2018 · Filed under: Inspirasi Qur'aniy; Tagged as:
    No Comments

Leave a Reply