Supardi A Shawwab

Dosen STAIN Salatiga

  • No Comments
  • No Comments
  • No Comments
  • No Comments
  • No Comments
  • Inspirasi Qur’aniy: Surat Al-Masad

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ   مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

    سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ          وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

    فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ

                Surat al-Masad atau lebih populer al-Lahab ini mengisahkan Abu Lahab dan istrinya, sebuah pasangan suami istri yang padu menentang ‘kebenaran’ risalah Nabi Muhammad SAW. Abu Lahab ‘Bapaknya Api’ kun’yah ‘julukan’ ini karena ketampanannya yang menonjol raut wajahnya yang menyala dan tidak ada makna peyoratif dengan julukan ini karena telah biasa dipakai orang arab sebelumnya. Nama aslinya adalah Abdul Uzza ‘Bapak Berhala Uzza’ bin Abdul Mutholib. Adapun istrinya adalah Arwa atau yang sering dipanggil Ummu Jamil ‘karena parasnya yang cantik mempesona.

    Pemakaian nama yang bukan nama asli ini menurut para pakar tafsir berarti bahwa hal itu berlaku umum untuk semua manusia yang memiliki prilaku yang sama dengan Abu Lahab dan istrinya. Ini bermakna bahwa dalam rentetan sejarah kehidupan manusia akan muncul Abu Lahab-Abu Lahab yang lain, begitu pula dengan penggunaan kata imroah,’perempuan’-nya yang bukan nama istri Abu Lahab bermakna akan ada wanita-wanita lain yang akan sama dengan ‘istri Abu Lahab. Dengan kata lain, ada pesan ‘moral’ universal, ‘ibrah ‘pelajaran’ atau hikmah dari kisahnya, atau ada makna kontekstualnya. Bagaimanakah prilaku Abu Lahab dan istrinya?

    Dikisahkan Abu Lahab dulunya suka cita akan kelahiran nabi, tetapi begitu Nabi berdakwahkan Islam, maka ia menentangnya habis-habisan karena takut kedudukan, pengaruh, dan kekuasaan, dan tradisi yang ia yakini ditergusur. Suatu hari- dikisahkan dalam kitab-kitab Tafsir- Nabi mendaki bukit As-Shafā dan menyeru semua orang suku Quraiys ketika mereka telah berkumpul: “Wahai Bani Abdul Muthalib, Wahai Bani Fihr, seandainya aku beritakan bahwa akan ada pasukan musuh yang akan menyerang kalian dari balik Bukit itu, Apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka menjawab: ‘Ya Kami Percaya!”, “Kalau begitu perhatikanlah. Kini aku berada disini untuk memperingatkan kalian akan kedatangan Saat Terakhir!. Mendengar itu serta merta Abu Lahab berseru “ali hadzā jama’tana. Tabban laka ya Muhammad! ‘Untuk inikah Engkau kumpulkan kami, Binasalah Engkau, Wahai Muhammad!, maka turunlah surat ini.

    (1) “Binasalah kedua “tangan” Abu Lahab, dan binasalah dia.”    Pemakaian kata yada ‘tangan’ merupakan metonimia bagi kekuasaan yang mengacu pada kuatnya pengaruh yang dimiliki Abu Lahab. Ayat ini memuat inspirasi bahwa betapapun seorang berkuasa ketika kekuasaan digunakan untuk melawan kebenaran dan keadilan, maka akan runtuhlah kekuasaannya itu dalam catatan sejarah kehidupan.

    (2) “Apalah Faedah harta bendanya baginya dan segala yang telah dia usahakan”. Bahwa harta benda yang ia pergunakan  untuk mempertahankan kekuasaan, pengaruh, dan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan adat-istiadat yang karut-marut yang membuat mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, berbekal kekayaan yang ada dan over confident  maksudnya akan berhasil, gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan atau cantik, karena berpengaruh dan kaya, dan kekuasaannya, tidak akan berhasil malah sebaliknya …

    (3) “Dia akan merasakan api yang hebat menyala’” maka penguasa yang lalim tidak adil dan sombong, ibarat mereka menggali lubang kebinasaannya sendiri dan dia akan terperosok ke dalamnya. Tidak hanya dirinya bahkan bisa jadi istri, anak dan keluarganya akan ikut terperosok jika mendukungnya secara membabi buta.

    (4) “bersama istriya “pembawa kayu bakar”

    Hammalah al-chathab’ dua kata Hammalah ‘sighat mubalagah dari hamil/-ah ‘porter/carrier ‘pembawa’ Hammalah ‘ Pembawa ‘suspender’ pembawa kayu bakar merupakan ungkapan idiomatik yang terkenal yang menunjukkan orang yang secara sembunyi-sembunyi membawa cerita-cerita jahat dan fitnah dari satu orang ke orang lain (Asad, 2003: 1286) atau maknanya di zaman now ‘orang yang suka  ‘posting berita hoax’ tanpa me-re-check kebenarannya’ dan mengobarkan api kebencian antar pribadi, kelompok, atau golongan. HP dalam bahasa Arab harian disebut ‘mahmūl’ , apakah HP kita menjadi ‘hammalah’ rahmah dan pencerahan bagi semesta atau sebaliknya hammalah chathab ‘pembawa api fitnah dan permusuhan? Perlu muhasabah!.

    ‘Hammalah al-Chathab’ adalah sosok wanita yang kemana-mana membawa ‘kayu bakar’ dan bahkan sering ditengah kelamnya malam menabur duri di sekitar rumah Nabi untuk menyakitinya. Makna lain bisa jadi  jika seorang wanita suka membawa api atau ‘main api’ atau fitnah ke dalam rumahnya atau sosok wanita yang mustinya menjadi katalisator penebar ‘sakinah’ bagi suaminya malah suka membawa api, atau menyulut api yang tidak hanya membakar dirinya tetapi juga keluarganya dan bahkan bisa jadi bangsanya ‘mengingat wanita adalah ibu bagi bangsanya’ dan tidak mau mengingatkan suami jika berprilaku salah malah justru mendukung suami secara membabi buta dalam prilaku negatif. Sosok wanita yang suka membawa api atau bahkan ‘main api’ dalam rumah tangga dan menyalakan sekam siap berkobar setiap saat dan sosok yang justru memberikan pengaruh negatif pada suami dan keluarganya, misalnya–meminta suami untuk berprilaku korup’.

    (5) “Dilehernya untaian tali temali yang dipilin”.

    Istilah Masad menurut Asad dalam The Massage of the Qur’an (2003: 1286) bermakna apa saja yang terbuat dari tali yang dipilin. Dalam bahasa Asad diterjemahkan Twisted Stands. Twist memiliki arti memilin, bengkok, menyimpang, tidak waras;  memutar.  Dengan demikian memiliki dua arti; pertama’ ‘perempuan yang bengkok dan menyimpang, kedua makna spiritual ‘nasib manusia telah kami ikatkan dilehernya’ (Asad,2003:1286). Dengan demikian, masad, dizaman now bermakna orang yang suka memutarbalikkan fakta atau cerita suka menebar gossip murahan atau juga bermakna  bagaimana hinanya dalam pandangan agama seseorang yang kerjanya “membawa kayu api”atau sebagai provokator yang suka menghasut dan memfitnah ke sana ke mari dan membusuk-busukkan orang lain karena takut pengaruhnya atau perhatian orang padanya berpaling. Dan dapat pula dipelajari di sini bahwasanya orang yang hidup dengan sakit hati, dengan rasa kedengkian dan kebencian kerapkali bernasib sama seperti Abu Lahab itu.

    Sisi lain dari kisah pasangan suami yang ganteng ‘Abu Lahab’ dan istri yang cantik ‘Arwa’, menunjukkan bahwa kegantengan sebenarnya adalah anugerah, “merasa ganteng” adalah pongah, kecantikan adalah anugerah “merasa cantik” dan “tebar pesonah ‘‘hammalah chathab’ adalah fitnah, dan bisa menjadi musibah. Kita memohon kepada Allah, semoga dijauhkan dari karaktek laki-laki seperti Abu Lahab dan wanita macam istri Abu Lahab dan tidak hidup menjadi hammalah ‘chathab’ pembawa hoax, pitnah dan permusuhan tetapi terpatri dalam jiwa kita ‘Saya adalah pembawa rahmah’ dan kedamaian atau ‘Saya adalah pembuka rahmah ‘Ana Fatkhurrohmah’. WaAllahu a’lam bisshawwab (Spd).

     

    No Comments
  • Inspirasi Quraniy: Surat al-fiil (Gajah)

     

    Surat pendek ini mengisahkan pasukan bergajah. Setiap kisah dalam al-Qur’an pastinya bukan hanya bersifat informatif belaka, tetapi Pasti ada pesan moral universal implisit yang musti digali dan diambil ibrah, ‘hikmah’ pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan pembacanya atau dengan bahasa lain dikontekstualisasikan.

    Ayat pertama surat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang bersifat retoris (pertanyaan yang tidak membutuhan jawaban, karena jawaban sudah terang, cetho welo-welo). Ini berarti mengajak pembaca untuk berfikir, merenungkan, tadabbur, merefleksikan kisah yang disajikan dan mengkontektualisasikan dalam realitas kehidupan nyata.

    (1) Alam tara kayfa fa’ala rabbuka bi-ash-haabi alfiili ‘Tidakkah Engkau melihat bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?’ Gajah dalam surat ini secara faktual adalah pasukan gajah raja Abrahah yang akan menghancurkan Ka’bah. Gajah binatang yang kuat dan bisa saja meluluh lantakkan Ka’bah. Secara  metaforis, gajah bisa jadi dimunculkan sebagai simbol untuk menggambarkan kepongahan keangkuhan ‘kesombongan’ manusia, mungkin karena jabatan, kekuasaan, harta, kecantikan atau ketampananannya yang memikat.

    Pertanyaan retoris tersebut selanjutnya dijawab oleh Allah dengan pertanyaan retoris pula supaya pembaca berfikir merenung kembali “Bukankah Allah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?”.

    Intisari– sejauh yang bisa ditangkap penulis– segala bentuk kepongahan dengan segala tipu daya yang dibuat pada dasarnya akan sia-sia. Contohnya Fir’aun yang pongah dengan kekuasaan pada akhirnya binasa, Qorun yang pongah dengan hartanya juga terbenam, Zulaikha yang pongah karena kecantikannya sehingga ia tebar pesona pada Nabi Yusuf A.S. dengan segala tipu dayanya akhirnya juga sia-sia, harus menanggung malu. Jadi, Ashhabil Fiil, jika kita maknai secara metaforis atau simbolis, maka ahs-habil fiil, mungkiiin dimaknai ahs-habil Maal ‘pemilik harta, ash-haabil Jaah,’yang berpangkat’ ash habil Jamaal ‘yang cantik/ganteng ’ tapi pongah atau ‘sok’, atau ash-habil ilm-‘yang pintar tapi keminter’, dan melakukan tipu daya atau tebar pesona untuk menunjukkan kepongahannya itu.

    Apakah akibat dari kepongahan itu? Ayat selanjutnya mengisahkan “wa-arsala ‘alayhim thayran abaabiila, tarmiihim bihijaaratin min sijjiilin, faja’alahum ka’ashfin ma/kuulin.dan kami mengirimkan burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu yang dibakar, sehingga menjadikannya seperti daun yang dimakan ulat. Itulah akibat kepongahan dengan segala intrik dan tipu daya-nya akan berakibat buruk dan lenyap segala yang dipongahkan/disombongkan. Ma’kuuul “Termakan” oleh tipu daya mereka sendiri sebagaimana daun yang dimakan ulat. Habis semua. Semula mungkin dipuja, setelah terkuat muslihatnya maka akan berbondong-bondong semua orang menghujatnya, atau semula bersahabat tapi akhirnya meninggalkannya, kayak daun dimakan ulat, ghilatun eh…‘’ngghilani’.

    Gampilipun ‘Gesang niku mboten susah kekatahen nggaya sing mboten-mboten’ ‘hidup itu tidak perlu kebanyakan tingkah ‘gaya’ dengan tipu daya, mengada-ada tentu pada saatnya semua akan terkuak tipudayanya. Selanjutnya, kalau bolih ikut bertanya pada seperti pertanyaan ayat pertama “Lalu bagaimana dengan Ash-Habil-Fortuner?”(Niki Mas kopinipun…, tiba-tiba istriku, mengejutkanku di lamunan pagiku dengan kopinya. panjenengan niku maos al-Qur’an, nopo al-Koran kok ashabil fiil dados ash-habil Fortuner? Ah.. Dik. WaAllahu A’lam bi Shawwaab. (Sekedar inspirasi dari Supardi Abdillah Shawwab).

    No Comments
  • TIPE-TIPE KESALAHAN KONKORDANSI GRAMATIKAL

    SINTAKSIS PADA FRASA BAHASA ARAB[1]

    Supardi, Syamsul Hadi, Soepomo Poedjosoedarmo, Suhandano

    Kajian Timur Tengah, UGM

    supardi7721@gmail.com

     

    Abstrak

     

    Penelitian linguistik terapan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe-tipe kesalahan konkordansi gramatikal sintaksis pada frasa bahasa Arab dengan studi kasus pada bahasa Arab tulis mahasiswa IAIN Salatiga. Pendekatan yang dipakai adalah kualitatif untuk mengidentifikasi tipe-tipe kesalahan konkordansi bahasa Arab. Sumber data dalam penelitian ini berupa proposal skripsi bahasa Arab, karangan bebas Arab dan terjemahan Indonesia-Arab. Metode pengumpulan data metode simak dengan teknik catat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kesalahan. Studi ini menemukan bahwa tipe kesalahan konkordansi gramatikal bahasa Arab mahasiswa IAIN Salatiga pada tataran frasa terdapat 19 tipe kesalahan dari empat struktur frasa, yaitu inti pewatas, pewatas inti, inti-inti, dan inti aposisi pada kategori gramatikal gender, jumlah, dan ketakrifan.

     

    Kata Kunci:      Kesalahan, Konkordansi, Sintaksis, Frasa, Bahasa Arab

     

    Abstract

     

    This research examines grammatical syntax concord errors in the Arabic phrase through a case study on the written Arabic of IAIN Salatiga’s students. The qualitative approach is used to identify the types of errors. The sources of data in this study are Arabic thesis proposals, Indonesian-Arabic translations, and Arabic-free compositions. The analytical method used is error analysis. The study found that the types of grammatical concord errors in written Arabic of IAIN Salatiga’s students on phrase level consist of 19 types of errors which comprise four phrase structures, namely the head- modifiers, modifier-head, head-head, and the Head- apposition in gender, number, and definetness categories.

     

    Keywords: Concord, Arabic-Syntax, Errors, Phrase.

                 

    Baca dilink berikut: http://journal2.um.ac.id/index.php/jbs/article/view/673

     

    [1] Artikel ini adalah bagian dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Minat Kajian Timur Tengah Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

    [2] Supardi (kandidat doktor  dalam Minat Studi Kajian Timur Tengah konsentrasi linguistik Arab) dan Syamsul Hadi, Soepomo Pudjosoedarmo, Suhandano adalah Promotor dan Co-Promotor dalam penulisan disertasi tersebut.

    No Comments
  • Sillabi

    No Comments
  • RENCANA PERKULIAHAN “MICRO-TEACHING PBA”

    Pertemuan 1: Penjelasan Micro-Teaching & Learning Contract
    Pertemuan 2: Ketrampilan- Ketrampilan Mengajar Bahasa Arab
    Pertemuan 3: Ketrampilan Variasi Mengajar Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Effektif, Menyenangkan, Menggembirakan dan Berbobot (PAIKEM-GEMBROT) Bahasa Arab
    Pertemuan 4: Praktek Micro-Teaching 1 (4 Mhs)
    Pertemuan 5: Praktek Micro-Teaching 2 (4Mhs)
    Pertemuan 6: Praktek Micro-Teaching 3(4 Mhs)
    Pertemuan 7: Praktek Micro-Teaching 4 (4 Mhs)
    Pertemuan 8: MID SEMESTER
    Pertemuan 9: Praktek Micro-Teaching 5 (4 Mhs)
    Pertemuan 10. Ujian Micro-Teaching 1
    Pertemuan 11: Ujian Micro-Teaching 2
    Pertemuan 12: Ujian Micro-Teaching 3
    Pertemuan 13: Ujian Micro Teaching 4
    Pertemuan 14: Ujian Micro-Teaching 5

    No Comments