Supardi A Shawwab

Dosen STAIN Salatiga

  • TIPE-TIPE KESALAHAN KONKORDANSI GRAMATIKAL

    SINTAKSIS PADA FRASA BAHASA ARAB[1]

    Supardi, Syamsul Hadi, Soepomo Poedjosoedarmo, Suhandano

    Kajian Timur Tengah, UGM

    supardi7721@gmail.com

     

    Abstrak

     

    Penelitian linguistik terapan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe-tipe kesalahan konkordansi gramatikal sintaksis pada frasa bahasa Arab dengan studi kasus pada bahasa Arab tulis mahasiswa IAIN Salatiga. Pendekatan yang dipakai adalah kualitatif untuk mengidentifikasi tipe-tipe kesalahan konkordansi bahasa Arab. Sumber data dalam penelitian ini berupa proposal skripsi bahasa Arab, karangan bebas Arab dan terjemahan Indonesia-Arab. Metode pengumpulan data metode simak dengan teknik catat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kesalahan. Studi ini menemukan bahwa tipe kesalahan konkordansi gramatikal bahasa Arab mahasiswa IAIN Salatiga pada tataran frasa terdapat 19 tipe kesalahan dari empat struktur frasa, yaitu inti pewatas, pewatas inti, inti-inti, dan inti aposisi pada kategori gramatikal gender, jumlah, dan ketakrifan.

     

    Kata Kunci:      Kesalahan, Konkordansi, Sintaksis, Frasa, Bahasa Arab

     

    Abstract

     

    This research examines grammatical syntax concord errors in the Arabic phrase through a case study on the written Arabic of IAIN Salatiga’s students. The qualitative approach is used to identify the types of errors. The sources of data in this study are Arabic thesis proposals, Indonesian-Arabic translations, and Arabic-free compositions. The analytical method used is error analysis. The study found that the types of grammatical concord errors in written Arabic of IAIN Salatiga’s students on phrase level consist of 19 types of errors which comprise four phrase structures, namely the head- modifiers, modifier-head, head-head, and the Head- apposition in gender, number, and definetness categories.

     

    Keywords: Concord, Arabic-Syntax, Errors, Phrase.

                 

    Konkordansi adalah salah satu sistem kebahasaan yang menuntut adanya kesesuaian antara satu elemen dengan elemen lain dalam sebuah struktur bahasa. Dalam bahasa Inggris, ada tiga istilah yang digunakan yaitu  concord”, congruence, dan agreement (Bloomfield, 1933: 191). Konkordansi merupakan sinonim dari kongruensi, kesesuaian (Kridalaksana, 2001: 106 & 117). Dalam linguistik Arab disebut al-mutābaqah (Barakat, 2007:205).

    Secara terminologi, Quirk, dkk, mendefinisikan ‘concord’ sebagai “the relationship between two gramatical elements such that if one of them contains a particular feature (e.g. plurality) then the other also has to have that feature”, (1972:312), atau Campana mendefinisikan agreement sebagai “a means by which languages signal the presence of grammatical relation ‘suatu alat di mana tanda-tanda bahasa menunjukkan adanya hubungan gramatikal (Campana, 2005: 21), sementara Kridalaksana mendefinisikan kesesuaian antara berbagai unsur dalam satu infleksi; atau ketergantungan sintaksis antara dua kata atau lebih yang menyangkut kasus, gender, jumlah dan persona (2001: 116). Lebih lanjut, Corbett (2003: 110) merumuskan elemen-elemen konkordansi, melalui bagan berikut ini:

    Bagan Elemen-Elemen Konkordansi

    controller                     target

     

     

     

     

     

    Feature: number

                            value   : singular

    Domain/ tataran

    works
    the system

     

     

    condition

     

     

    Dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa elemen-elemen dari konkordansi adalah a) controller “pengontrol” yaitu elemen yang menentukan konkordansi, dalam contoh di atas adalah subyek frasa nomina ‘the system’; b) target ‘target’ elemen yang bentuknya ditentukan konkordansinya oleh pengontrol, dalam hal ini adalah predikat verba ‘works’; c) domain ‘tataran’ adalah lingkungan sintaksis ‘the syntactic environment’ tempat terjadinya konkordansi, dalam contoh di atas adalah klausa; d) feature atau category ‘kategori’ adalah aspek apa konkordansi tersebut terjadi, dalam hal ini adalah number ‘jumlah’, e) value ‘nilai’ dalam hal ini adalah macam jumlah yang terjadi konkordansi adalah singular ‘tunggal’.

    Dari definisi konkordansi dan elemen-elemnnya tersebut dapat ditarik beberapa intisari konkordansi yaitu: (a) adanya kesesuaian, (b) adanya hubungan sintaksis, c) adanya elemen-elemen sistem konkordansi yaitu: tataran, pengontrol, target, feature, dan value, dan d) adanya kategori gramatikal tertentu pada kesesuaian tersebut yaitu gender, jumlah, ketakrifan, persona, dan kasus.

    Sebuah frasa, klausa, atau kalimat disebut gramatikal apabila mengikuti aturan-aturan gramatika (Richard & Schmidt, 2002: 231), according to the rules of grammar’ (Thatcher,t.t.:376). Gramatikal diartikan sebagai (1) diterima oleh bahasawan sebagai bentuk atau susunan yang mungkin ada dalam bahasa atau (2) sesuai dengan kaidah-kaidah suatu bahasa (Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia, 2013: 486).  Dari tesis tersebut, maka frasa, klausa, atau kalimat yang tidak sesuai dengan aturan-aturan gramatika dapat disebut ungrammatical, tidak gramatikal, ketidakberterimaan secara gramatikal atau salah secara gramatika, atau disebut error yaitu kesalahan berbahasa akibat penutur melanggar kaidah atau aturan tata bahasa (breaches of code)’ (Ahmadi, 2014: 140) termasuk didalamnya aturan konkordansi gramatikal yang menuntut adanya kesesuaian antara berbagai unsur sintaksis dalam kategori gramatikal. Misalnya (Quirk, et.all. 1972: 359):

    01 The window                   is                      open

    Def. ‘Jendela’ S.N.Tgl. ‘tobe’ Tgl.        V.

    Jendela itu terbuka

     

    02 The windows                            are                    open

    Def. Jendela-jendelaS.N.Jmk. ‘to be’ Jmk.        V

    Jendela-jendela itu terbuka

     

    03 *The window                     are                          open

    Def. ‘Jendela’S.N. Tgl.     ‘to be’ Jmk.           ‘membuka’

    Jendela  itu terbuka

     

    04 * The windows                                is                       open

    Def. ‘Jendela-jendela’S.N. Jmk.     ‘to be’ Tgl.          Membuka. V.

    Jendela-jendela itu terbuka

     

    Empat contoh kalimat pasif –yang terdiri dari tobe + verb bentuk 3– di atas menunjukkan tentang konkordansi. Pada contoh (01) terdapat konkordansi antara Subyek The window ’jendela itu’ dengan to be ‘isopen ’terbuka/dibuka’ dalam kategori jumlah value tunggal, begitu pula pada contoh (02) terdapat konkordansi the windows ’jendela-jendela itu’ yang berkategori jumlah jamak dengan predikat to beareopen ‘dibuka/terbuka’ dalam kategori jumlah jamak; sedangkan pada contoh (03) dan (04), kedua kalimat tersebut tidak gramatikal, karena tidak ada konkordansi antara subyek nomina dengan  to be nya.

    Dari definisi konkordansi gramatikal dan contoh-contoh kalimat tersebut maka penulis merumuskan kesalahan gramatikal konkordansi sebagai ketidaksesuaian antara unsur-unsur dari suatu frasa, klausa, atau kalimat pada sebuah relasi gramatikal dalam satu atau lebih kategori gramatikal gender, jumlah, persona, ketakrifan, dan atau kasus. Kesalahan konkordansi ini oleh Zahran (2008: 108)  dalam bahasa Arab diidentifikasi dengan istilah `adami al-mutābaqah. Penulis menawarkan istilah ‘akhtā’ al-mutābaqah.

    Kesalahan konkordansi ini merupakan salah satu bentuk kesalahan berbahasa Arab yang sering terjadi. Isma’il (2005: 150) menempatkan masalah mutābaqah ‘konkordansi’ ini sebagai kesulitan gramatikal bagi pembelajar bahasa Arab (selanjutnya ditulis bA). Penelitian Sa’adah (2011) menunjukkan bahwa kesalahan bA dalam konkordansi ini mencapai 293 kasus dari 2930 butir kesalahan bA, Penelitian Sofriyah (2015: 273-290) menunjukkan adanya kesalahan gender, jumlah, dan ketakrifan dalam buku pelajaran bA sekolah tingkat Menengah (M.Ts), penelitian Amrullah (2015: 16) juga menemukan kesalahan tarkībyah ‘sintaksis’ misalnya: ‘na’at man’ut ‘frase nomina Arab’, sementara Zaini (2011: 5-7) menemukan kasus-kasus kesalahan konkordansi Subyek dan Predikat. Ubaidilah juga menemukan kesalahan konkordansi frasa bA  (Ubaidilah, 2009: 18-25). Belum terdapat penelitian tentang apakah sajakah tipe-tipe kesalahan konkordansi gramatikal sintaksis pada frasa bA, maka penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tipe-tipe kesalahan konkordansi bA pada tataran frasa. Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Mardikantoro, 2016: 48). Studi ini merupakan studi kasus pada bahasa Arab tulis mahasiswa IAIN Salatiga.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini merupakan penelitian linguistik terapan, applied linguistics. Penelitian linguistik terapan di sini dimaksudkan untuk memanfaatkan teori konkordansi gramatikal untuk melihat tipe–tipe kesalahan konkordansi frasa dalam pembelajaran bA. Metode penelitiannya adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari tulisan-tulisan mahasiswa yang berupa: proposal skripsi berbahasa Arab (PSBA), karangan bebas berbahasa Arab (KBA), dan terjemahan Indonesia-Arab (TIA) mahasiswa IAIN Salatiga tahun 2013 dan 2014. Metode pengumpulan datanya adalah metode simak teknik catat ’taking note method’ (Muhammad, 2012:37-42). Metode simak dilakukan dengan membaca karya-karya tersebut, metode catat dilakukan dengan pencatatan data-data yang dituliskan dalam kartu data.

    Adapun metode analisisnya adalah analisis kesalahan, error analysis. Corder (1974) dalam Ellis (1994: 48) dan Gass Morever dan Selingker dalam Hidayat (2014: 172) menawarkan setidaknya empat langkah dalam analisis kesalahan berbahasa, yaitu: (a) mengumpulkan sampel bA pembelajar, dalam hal ini sampel bahasa diambil proposal skripsi berbahasa Arab (PSBA), karangan bebas berbahasa Arab (KBA),dan terjemahan Indonesia-Arab (TIA) mahasiswa IAIN Salatiga, (b) mengidentifikasi kesalahan, kesalahan-kesalahan konkordansi diidentifikasi dan diklasifikasi berdasarkan pada unsur pengisi fungsi sintaksis, dalam hal ini fungsi pengisi frasa yaitu inti dan pewatas; dan  kategori-kategori gramatikal konkordansi yaitu kategori gender, jumlah, ketakrifan, persona, dan kasus (c) mendeskripsikan kesalahan, kesalahan-kesalahan bA dideskripsikan dengan kotak data, dan dipilah berdasarkan unsur pengisi frasa dan kategorinya di bawah data, (d) Menjelaskan tipe kesalahan yang terjadi berdasarkan ketidaksesuaian antara kategori gramatika pada elemen-elemen pengsisi frasa secara naratif. Tipe-tipe kesalahan-kesalahan konkordansi dalam artikel ini dibatasi pada tataran frasa.

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

          Ditemukan empat struktur frasa bA yang mengalami kesalahan yaitu: 1) Inti–Pewatas yang meliputi (a) Nomina-Adjektiva, (b) Nomina –Numeralia, (c) Numeralia –Nomina, 2) Pewatas-Inti, meliputi: (a) Pronomina Penunjuk-Nomina, dan (b) Verba modalitas-Verba, 3) Inti-Inti, meliputi: konkordansi Adjektival dan konkordansi Verbal, (4) Inti-Aposisi. Berikut ini dideskripsikan tipe-tipe kesalahan konkordansi frasa berdasarkan unsur pembentuk frasa dan kategori gramatikal konkordansinya:

    1). Kesalahan Konkordansi Struktur Frasa  Inti-Pewatas

    Kategori Gender

    a.Tipe kesalahan Inti Nomina Feminin-Pewatas Adjektiva Maskulin

    NO Kesalahan Kategori
    05  (KBBA:001)اللغة العربي *

    al-         lughoh                     al-arabiy

    al Def.‘ bahasa’ N.  Fem     Def. ‘Arab’ Adj. Mas.

    Bahasa Arab

    Gender

    Fem

    v.s.

    Gender

    Mas

    Seharusnya:
    05a اللغة العربية

    al-lughoh                            al-‘arobiyyah

    al.Def. Bahasa.N. Fem      Al. Def.  Arab.Adj: Fem

    Bahasa Arab

    Gender Fem

    v.s.

    gender Fem

     

    Berdasarkan pada sistem elemen konkordansi sebagaimana dirumuskan oleh Corbett (2003: 100), sampel data 05 frasa اللغة العربي /al-lughah al-‘arabī/ ‘bahasa Arab’  merupakan tataran frasa terdiri dari nomina اللغة sebagai pengontrol dan pewatas adjektiva العربي sebagai target yang harus sesuai feature atau kategori gramatikalnya. Elemen frasa tersebut  tidak terdapat konkordansi antara inti nomina اللغة sebagai elemen pengontrol, dengan pewatas adjektiva العربي sebagai target dalam kategori gender, karena al-lugah dengan  fitur kategori gender dengan value feminin dengan pemarkah ta marbutah, sedangkan adjektiva ‘araby’ berkategori gender maskulin. Dalam konkordansi jika satu elemen memiliki feature atau kategori tertentu maka elemen yang lain harus memiliki kategori yang sama (Quirk, et.all., 1972: 359). Jadi tidak terdapat konkordansi antara unsur inti dan pewatas frasa pada frasa tersebut, sehingga salah secara gramatikal. Adjektiva yang tepat untuk menyesuaikan value konkordansinya adalah adjektiva yang feminin, yaitu العربية /‘arabiyyah/ dengan penambahan pemarkah feminin ta marbutah. Dengan demikian, frasa yang tepat adalah اللغة العربية /al-lugah al-‘arabiyah/ 05a.

    1. b) Tipe inti Nomina Maskulin Adjektiva Feminin

    Dalam BA, pembentukan frase nomina adjektive harus mempedulikan kesusuaian antara nomina dan adjektiva dalam kategori gender ‘feminin-maskulin, ketakrifan merupakan kaidah yang harus dipatuhi (Ahya, 2012: 18). Misalnya, frasa  ““شيئا مهمة yang menunjukkan tidak adanya konkordansi antara inti nomina شيئا /syai’an/ ‘sesuatu’ dengan adjektiva atau dalam BA disebut ‘na‘at’ /sifah/wasf (Kasher, 2009: 461) مهمة /muhimmah/ karena nomina شيئ berkategori gender maskulin sedangkan adjektiva مهمة bergender feminin.

    2). Frasa Numeralia-Nomina

    a.Tipe Kesalahan dengan tipe Pewatas Numeralia maskulin–Inti Nomina Feminin Tipe ini merupakan kebalikan dari tipe sebelumnya. Data 04  اثنتا عشر طالبة* ‘Isna ‘asyara tālibat-an, numeralia isna menunjukkan kategori gender maskulin, numeralia tersebut tidak kongruen dengan nomina tālibat-an yang berkategori gender feminin, mestinya ‘isnata yang berkategori gender feminin.

    1. Tipe Kesalahan Frasa Nomina Feminin –Numeralia Ordinal Maskulin
                NO Kesalahan Kategori
    05   (KBA:075)الساعة الثالث*

    al-sā’ati                           al-tāli

    Jam. N. Def. Tgl.Fem.   ‘ketiga’ : Num. Ord. Def. Tgl. Mas

    Jam tiga

       

    Gender fem-gender mas
    Seharusnya:
    05a الساعة الثالثة

    al-sā’ati                            al-tāliati

    Jam. N. Def. Tgl.Fem.   ‘ketiga’ : Num. Ord. Def. Tgl. Fem.

    Jam tiga

    Gender feminin-gender feminine

     

    Dalam konkordansi, konstruksi dua kata atau lebih dalam kelas kata yang berbeda yang membentuk satuan sintaksis dituntut untuk memiliki kategori yang sama (Robins, 1964: 235). Data 05 menunjukan bahwa frasa الساعة الثالث /al-sa‘ah al-tsālits/ tidak terdapat konkordansi antara inti nomina dengan pewatas  numeralia ordinal dalam feature ketegori gender. Nomina الساعة berkategori gender value feminin sedangkan pewatas numeralia berkategori gender value maskulin. Tataran frasa yang terdiri dari nomina dan numeralia ordinal Arab menuntut adanya konkordansi (Rajihi, 1999:373), sehingga susunan frasa salah secara gramatikal dalam hal konkordansi, frasa tersebut seharusnya  الساعة الثالثة / al-sā’ati al-tāliati/ ‘jam ke-tiga’, yaitu dengan menambahkan ta’ marbuthah sebagai pemarkah feminin pada numeralia ordinal al-tāliah, lihat 05a. Dengan demikian ta’ marbutah tersebut menunjukkan adanya hubungan gramatikal antara satu elemen dengan elemen lain dalam bahasa (Campana, 2005: 21).

    1. c) Tipe Inti Nomina Maskulin-Pewatas Numeralia Ordinal Feminin,

                Tipe ini merupakan kebalikan dari tipe sebelumnya. Misalnya pada frasa الصف السابعة / al-saffu al-sābi‘at-u /’kelas ketujuh”. Nomina الصف berkategori gender maskulin sedangkan adjektiva numeralia ordinal al-sābi‘at-u  feminin.

    Kategori Jumlah

    Tipe kesalahan inti nomina dual adjektiva tunggal ditemukan, misalnya:

    NO Kesalahan Kategori
    06  (KBA & TIA: 028).المادتان الآخرة*

    Al- mādatāni                                  al-ākhiroh        

    Al- Def. materi  N. Fem.dual       al-Def.‘akhir’ Adj. Fem.tgl.

    Dua materi itu

    Jumlah dual

     

    Vs.

    Adjektiva tunggal

    Seharusnya:
    06a المادتان الأخيرتان

    Almādatāni                                     al-ākhīratāni

    Al- Def. materi  N. Fem.dual       al-Def.‘akhir’ Adj. Fem.dual.

    Dua materi itu

     

    Jumlah

    Dual

    v.s.

    jumlah dual

     

    Sampel data 06 tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kesesuaian antara pewatas adjektiva الآخرة /al-‘ākhirah/ dengan inti nomina yang disifatinya المادتان /al-mādat-āni/ dalam kategori jumlah. Nomina المادتان / al-mādat-āni / berkategori dual, sementara adjektiva الآخرة / al-‘akhirah/ berkategori jumlah value tunggal feminin. maka struktur pada tataran frasa tersebut salah secara gramatikal. Dengan kata lain, dua antara elemen pengontrol dan target, menurut istilah Corbett (2003: 100) tidak terdapat ketergantungan sintaksis dalam kategori gramatikalnya (Kridalaksana, 2001: 116). Frasa nomina adjektiva tersebut seharusnya المادتان الأخيرتان/ al-mādat-āni ‘akhirat—āni/ (06a), sehingga terdapat ketergantungan sintaksis dalam kategori jumlah dua antara inti nomina dan pewatas adjektiva.

    Kategori Ketakrifan

    Ada dua tipe kesalahan yaitu (a).Tipe Nomina Takrif Adjektiva Taktakrif dan (b). Tipe nomina taktarif adjektiva takrif. Berikut ini satu sampel data kesalahannya:

     

    NO Kesalahan Kategori
    07  (PBA: 033)المدرسة دينية*

    al-madrosah                                    dīniyyah

    al-. Def. ‘sekolah.’ N.                   ‘keagamaan’ adj. UnDef.

    Sekolah itu keagamaan

    Takrif

    –tak takrif

    Seharusnya:
    07a المدرسة الدينية

    al-madrosah                                  al-dīniyyah

    al-Def. ‘sekolah. N takrif    al. Def. ‘keagamaan’ .Adj. takrif

    Sekolah Keagamaan

    Takrif –takrif

     

    Sampel data 07 menunjukkan kesalahan konkordansi dalam pembentukan frasa nomina yang terdiri dari nomina dan adjektiva. Frasa  المدرسة دينية /al-madrasah dinīniyah/ ‘sekolah agama’ dalam bA antara inti nomina dan pewatas adjektiva harus terdapat konkordansi dalam kategori jumlah, gender, dan ketakrifan dan kasus (Rajihi, 1999: 373) atau adanya ketergantungan sintaksis (Kridalaksana, 2001: 116). Pada data di atas, pewatas adjektiva دينية / dinīniyah/ tidak sesuai dengan inti nomina dalam kategori ketakrifan. Elemen al-madrasah berkategori ketakrifan takrif dengan pemarkah alif lam takrif, sedangkan دينية / dinīniyah/ berkategori ketakrifan taktakrif, maka bentuk adjektiva yang tepat adalah dalam bentuk takrif, yaitu الدينية /al-dinīyah/ dengan menambahkan prefiks alif lam takrif sehingga membentuk frasa yang tepat المدرسة الدينية / al-madrasah dinīniyah/ (07a).

    2). Pewatas –Inti

    Kategori Gender

                Beberapa tipe kesalahan pada frase pewatas inti adalah: (a) Tipe kesalahan konkordansi numeralia feminin-Nomina maskulin, (b).Tipe kesalahan Pronomina Penunjuk maskulin –Nomina Feminin, (c) Tipe kesalahan konkordansi Pronomina Penunjuk Feminin Nomina Maskulin, (d)  Tipe kesalahan konkordansi modal maskulin –Verba Feminin. Berikut ini hanya dicontohkan tipe (a), (b) dan (d):

    NO Kesalahan Kategori
    03   (TIA: 070).اثنا عشرة طالبا*

    Isna ‘asyarta                                                     tāliban

    ‘Dua belas’ Num.satuan. Mas. pul. Fem. ‘mahasiswa’ N. Mas.

    Dua belas mahasiswa (Volume: 2)

    Nom Mas

    v.s.

    Num fem

    Seharusnya:
    03a اثنا عشر طالبا

    Isna ‘asyara                                             tāliban

    ‘Dua belas’  Num. satuan &Pul. Mas ‘mahasiswa’. N. Mas.

    Dua belas mahasiswa

    Num.

    Mas

    v.s.

    N. Mas

     

    Frasa nomina numeralia belasan pada bA menuntut adanya konkordansi anatara nomina dan numeralia dalam kategori gender. Pada sampel ‘Isna ‘asyrata tāliban ‘dua belas mahasiswa’ pada data no 03 di atas menunjukkan bahwa tidak terdapat kesamaan kategori antara Inti nomina tāliban sebagai pengontrol konkordansi dengan numeralia ‘Isna ‘asyrata sebagai target kontrol sebab nomina tāliban memiliki feature kategori gender value maskulin sedangkan ‘Isna ‘asyrata memiliki feature kategori gender value feminin sehingga tidak terdapat konkordansi antara unsur frasa inti dan pewatas. Padahal dalam sistem konkordansi gramatikal, dua kata atau lebih yang berada pada satuan sintaksis harus sama dalam kategori secara paradigmatis (Robins, 1964: 235). Pembetulan kesalahan tersebut adalah dengan menyamakan kategori anatara nomina dan numeralia yaitu dengan membuang pemarkah feminin ta marbutah pada numeralia ‘Isna ‘asyrata menjadi ‘Isna ‘asyara sehingga terdapat konkordansi antara unsur inti dan pewatas, sehingga frasa menjadi ‘Isna ‘asyarata tāliban seperti tampak pada 03a.

                NO Kesalahan Kategori
    08   (TIA: 082)هذا الكنيسة*

    hażā                                      al-         kanīsatu

    ‘ini’ Ppnjk.Def. Tgl. Mas.    al-“takrif   ‘gereja’. N.Tgl.Fem.

    Ini gereja

     

    Ppn maskulin

    -Nomina feminine

    Seharusnya:
    08a هذه الكنيسة

    Hażihi                                    al-             Kanīsatu

    ‘ini’ Ppnjk.Def. Tgl. Fem.    al-“takrif   ‘gereja’. N.Tgl.Fem.

    Ini gereja

     

    Ppn Feminin

    Nomina Feminin

     

    Kesalahan gramatikal konkordansi tidak hanya terjadi pada nomina-adjektiva, tetapi juga terjadi pada tataran frasa yang terdiri dari pewatas pronomina penunjuk dan inti nomina (al-Yaari, 2013: 74). Hubungan sintaksis pada frasa 08 hāza al-kanīsat-u ‘ini gereja’ tidak kongruen dalam kategori gender karena hāza merupakan pronomina penunjuk kategori gender value maskulin jumlah value tunggal sedangkan al-kanīsat-u merupakan nomina berkategori gender value feminine dengan pemarkah ta’ marbutah. Pronomina penunjuk yang tepat hāzihi yang berketegori gender value feminine jumlah value tunggal. Dengan demikian, frasa yang tepat adalah hāzihi al-kanīsat-u 010a. Frasa ini menunjukkan adanya konkordansi antara pewatas pronomina hāzihi dengan inti nomina al-kanīsat-u dalam kategori gender feminin jumlah tunggal.

                 NO Kesalahan Kategori
    09   (KBA: 082).مازال تتعلم (عائشة)٭

    MāzālaØ                              tata‘allamu

     ‘masih’. Vmod.Tgl.Mas.   ‘belajar’. V.Tgl.Fem

    (Aisyah) masih belajar

    Vmod.Tgl.Mas

    V.Tgl.Fem

    Seharusnya:
    09a مازالت تتعلم (عائشة)

    Māzāla-t                               tata‘allamu

     ‘masih’. Vmod. Tgl.Fem.  ‘belajar’. V.Tgl.Fem

    (Aisyah) masih belajar

    Vmod. Tgl.Fem

    V.Tgl.Fem

    Kesalahan konkordansi frasa pewatas verba modal dan inti verba terdapat pada data 09 yaitu frasa verba MāzālaØ tata‘allamu ‘masih belajar’ yang terdiri atas verba modal MāzālaØ  yang merupakan modal yang berketegori jumlah tunggal gender maskulin sedangkan verba tata‘allamu yang merupakan verba yang berketegori jumlah tunggal gender feminin. Konstruksi frasa verba tersebut, dalam istilah Campana tidak menunjukkan penanda adanya relasi gramatikal konkordansi antara modal dengan verba dalam kategori gender feminin (Campana, 2005: 21).  Frasa yang benar adalah Māzāla-t tata‘allamu yaitu verba modal ditambahkan ta’ ta’nis sakinah sebagai signal atau penanda kategori gender feminin jumlah tunggal persona ketiga.

    Kategori Jumlah

    Tipe pewatas Pronomina penunjuk tunggal inti nomina dual

     

    NO Kesalahan Kategori
    010  (KBA & TIA: 097)ذلك الطالبان*

    zālika                       al-         thālib-āni

     ‘itu’ Ppn Tgl.Mas. AL.Trf. ‘mahasiswa’Pwt.N. Mas. Dual

    Itu dua mahasiswa

    Ppn

    Mas Tgl

    N.Mas.Dual

    Seharusnya:
    010a ذانك الطالبان

    zānika                              al-          thālib-āni

     ‘itu’  : Ppn .Mas. Dual. Al-takrif ‘mahasiswa’.N. Mas. Dual

    itu dua mahasiswa

     

    Ppn mas dual

    N mas dual

     

    Data 010 menunjukkan kesalahan konkordansi pronominal penunjuk dengan nomina, yaitu pronomina zālika yang merupakan pronomina yang berketegori gender maskulin jumlah tunggal tidak kongruen dengan nomina al-thālib-āni ‘dua mahasiswa’ yang merupakan nomina berketegori gender maskulin jumlah dual. Struktur gramatikal menuntut adanya kesesuaian salah satunya dalam kategori jumlah (Kridalaksana, 2001: 116). Jadi pada frasa tersebut tidak terdapat konkordansi jumlah antara pronominal penunjuk dengan nomina.

    3).  Konkordansi Inti-Inti

    Konkordansi antara Inti-Inti terjadi pada koordinasi adjektiva pada kategori gender dan jumlah.

    3.1. Kategori Gender

    Ada dua tipe yaitu (a) koordinasi  Adjektiva kategori gender maskulin-feminin    dan   (b) koordinasi adjektiva Feminin-Maskulin. Berikut ini salah satu sampel datanya.

                                                            NO Kesalahan Kategori
    011

     

     (KBA: 099).هذا المسجد كبير وجميلة*

    Kabīrun                            wa                         jamīlah

    ‘besar’.Adj. Tgl. Mas.   ‘ dan’ .Cord.conj. ‘indah’: Adj.Fem

    Besar dan indah

     

    Mas

    Feminin

    Seharusnya:
    011a المسجد كبير وجميل

     kabīr                           wa                            Jamīlah

    ‘besar’.Adj.Tgl.Mas     ‘dan’ .Cord. Conj.  ‘indah’.Adj. Mas.

    Besar dan indah

    Maskulin

    Maskulin

     

    Sampel data 011 tersebut menunjukkan kesalahan konkordansi pada frasa yang terdiri dari kordinasi dua adjektiva antara Inti dengan Inti. Frasa (011) kabīrun wa jamīlah ‘besar dan indah’ tidak kongruen dari kategori gender karena adjektiva kabīrun memiliki kategori gender maskulin sedangkan adjektiva jamīlah memiliki kategori gender feminin dengan pemarkah ta’ marbutah, padahal dalam bA koordinasi adjektiva harus terdapat konkordansi dalam kategori gendernya.

    3.2. Kategori Ketakrifan

                Ada dua tipe ditemukan kesalahan dalam kategori ketakrifan ini yaitu (a )tipe kesalahan Konkordansi Koordinate adjektiva takrif –taktakrif dan (b) kesalahan Konkordansi Koordinate adjektiva taktakrif –takrif. Berikut satu sampel datanya:

    NO Kesalahan Kategori
    012 المقدسة و طاهرة الأماكن (KBA: 103)

    al-              muqaddasah                   wa                 tāhirah

    al-‘ takrif  ’suci’.Adj.Tgl. Fem.Def. ‘dan’.konj‘suci’Adj.UnDef.

    Suci dan suci

    Adj.Takrif –

    Adj. taktakrif

    Seharusnya:
    012a المقدسة و الطاهرةالأماكن

    al-muqaddasah                                   wa                 al-    tāhirah

    al-‘ takrif  ’suci’.Adj.Tgl. Fem.Def. ‘dan’.konj al-Takrif ‘suci’Adj.Def.

    Suci dan suci

     

    Adj.Takrif –

    Adj. taktakrif

     

    Data tersebut menunjukkan ketidakkonkordansian koordinasi adjektiva dua adjektiva al-muqaddasah ‘yang suci’ dan tahir ‘bersih’ dalam kategori ketakrifan. Adjektiva al-muqaddasah berkategori ketakrifan takrif dengan pemarkah alif-lam takrif, sedangkan adjektiva tahirah berketegori ketakrifan tak-takrif. Koordinasi adjektiva yang tepat adalah dengan memberikan pemarkah ketakrifan pada adjektiva tahirah, sehingga menjadi al-muqaddasah wa al tāhirah.

    4). Inti- Aposisi

    Dua tipe dalam kesalahan inti-pewatas ini yaitu: (a) inti nomina maskulin aposisi pronomina feminin dan (b) Inti nomina feminin –aposisi isim maushul ‘konjungsi maskulin’. Berikut ini satu sampel data kesalahannya:

    NO Kesalahan Kategori
    013

     

    هذا معهد هى…* (PBA:105)

    Hazā                        ma‘had                           hiya

    ‘ini’.Ppnj. Tgl. Mas. ‘pondok’: N. Tgl.Mas.  ‘dia/yang’: apps pron. Fem

    Inilah pondok yang…

    Nom

    Mas-

    Apss

    Fem

    Seharusnya:
    013a هذا المعهد هو…

    Hazā                        ma‘had                           huwa

    ‘ini’.Ppnj. Tgl. Mas. ‘pondok’: N. Tgl.Mas.  ‘dia/yang’: apps pron. Mas.

    Inilah pondok yang…

     

    Nom

    Mas-

    Apss

    Mas

     

    Data tersebut menunjukkan kesalahan konkordansi tataran frasa Inti-Aposisi yang terdiri atas inti nomina dan pronomina persona sebagai aposisi. Inti nomina pada data tersebut adalah kata ma‘had ‘pondok’ yang berketegori gender value maskulin, sementara aposisi yang berupa pronomina persona hiya ‘dia’ merupakan pronomina orang ke tiga tunggal feminin, sehingga hubungan sintaksis konkordansi antara inti nomina dan aposisi tidak menunjukkan adanya keseuaian kategori yang merupakan penanda konkordansi (Campana, 2005: 21) secara gramatikal. Aposisi yang tepat adalah huwa ‘dia’ yang merupakan pronomina persona ketiga tunggal maskulin, sehingga ada konkordansi gender di antara nomina dan aposisi pronomina.

    KESIMPULAN

    Tipe-tipe kesalahan konkordansi gramatikal BA tataran frasa ditemukan pada empat struktur: (a) Inti pewatas, (b) pewatas Inti, (c) Inti-Inti, dan (d) Inti Aposisi. Kesalahan pada struktur (a) Inti pewatas meliputi 5 tipe: (1) N: Feminin Adj Maskulin, (2) N: Maskulin, Adj. Feminin, (3) N: Dual  Adj. Singular (4) N: Takrif, Adj. Taktakrif, dan (5) N.taktakrif – Adj. Takrif; Kesalahan pada struktur frasa (b) pewatas-Inti numeralia pewatas nomina meliputi tipe: (6) Num. Feminin  N. Mas; (7) Num. Mas  N. Fem, (8) Nomina Fem. Num.Ord. Mas (9) Nomina Mas Num.Ord. Fem dan 10) Verba Fem-Adj. Maskulin, (11) Ppn. Mas N. Fem, 12) Ppn. Fem. N. Mas, dan (13) Ppn. Tgl.N.Dual, (14) Modal Mas. Verba Feminin; kesalahan pada struktut frasa (c) Inti-Inti meliputi: (15) koordinasi adjektiva maskulin dan feminin dan (16) tipe Inti-Inti: koordinasi adjektiva feminin dan maskulin, (17) koordinasi nomina taktakrif dan takrif; Kesalahan pada struktur frasa (d) Inti Aposisi: (18) tipe Inti nomina maskulin aposisi pronomina penunjuk feminin, dan (19) tipe Inti nomina feminin aposisi konjungsi ‘kata sambung’ maskulin.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ahmadi. 2014. ‘Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan dalam Pembelajaran Bahasa Arab sebagai Second Language’. Dalam jurnal ilmu Tarbiyah al-Tajdid. Vol.3.No 1 Januari 2014.

     

    Ahya, Ahmad Syauqi. 2012. ‘Pemfokusan  dalam bahasa Arab’. Dalam Madaniya.Jurnal Bahasa dan Sastra Arab. Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.Vol.XI.No 1. 2012.

     

    Amrullah, Muhammad Afif.2015. ‘Analisis Kesalahan Qowaid pada Buku Ajar Bahasa Arab’ dalam Jurnal Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, Juli 2015.hal. 50-67.

     

    Barakat. Ibrahim Ibrahim. 2007. al-Nahwu al-‘arabī. Kairo: Dar al-nasr li jāmi’āt.

     

    Bloomfield. Leonard. 1933. Language. New York: Henry Hold and Company Inc.

     

    Campana, Mark. 2005. ‘Agreement’. Dalam ‘Encyclopedia of Linguistics’. Philipp Strazny (Edt.) New York: Fitroy Dearbon.

     

    Corbett, Greville G. 2003. Agreement: Term and Boundaries. The Role of Agreement in Natural Language: TLS 5 Proceedings, W. E. Griffin (ed.), 109-122. Texas Linguistics Forum.

     

    Ellis, Rod. 1994. The Study of Second Language Acquisition. Oxford: OxfordUniversity Press.

     

    Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. 2013. Bandung: Angkasa.

     

    Hidayat, Nandang Sarif. 2014. ‘Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan dalam Pembelajaran Bahasa Arab’ dalam Jurnal Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014.Hal.160-174.

     

    Isma’il, Ahmad Syatori. 2005. al-Su’ubāt al-Muhtamalah al-latiTuwāhu al-Indonesiyyīn ‘indaTa‘allum al-‘Arabiyyah dalam al-Jami’ahJurnal of Islamic Studies.Volume 43 Number 1 kategori. 131-158.

     

    Kasher, Almog. 2009. ‘The Term Ism in Medieval Arabic Gramatikal Tradition: A Hyponym of Itself’ dalam Jurnal of Semitic Studies L.IV./2. Hal. 459-474.

     

    Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia. Cetakankelima.

     

    Mardikantoro, Hari Bakti.2016. ‘Satuan Lingual Pengungkap Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan’ dalam jurnal Bahasa dan Seni. Tahun 44.No.1.2016.

     

    Muhammad. 2012. Metode dan Teknik Analisis Data Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press.

     

    Quirk, Randolph, Sidney Greenbaum, Geofrey Leech, Jan Svartvik. 1972. A   Grammar of Contemporary English. Vol. 1 & 2. New York: Longman Inc.

     

    Rajihi, Abduh. 1999. Al-Tatbīqu al-Nahwī. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif.

     

    Richard. Jack C. dan Richard Schmidt. 2002. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. London: Longman

     

    Robins. R.H.1964. General Linguistics: An Introductory Survey. London: Longman

     

    Sa’adah, Fina. 2011. “Analisis Kesalahan Berbahasa Arab: Studi Kesalahan-Kesalahan Penerapan Nahwu pada Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIN Walisongo Periode Wisuda 2007/2008”. Tesis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

     

    Safriyah. 2015. “Tahlilul Akhta’ al-Nahwiyah fi kutub al-Muqarar al-lugah al-‘arabiyah fi Marhalati al-dirasah al-mutawasithah atseh” .Jurnal Lisanuna.Vol.4.No.2. 2015.Hal: 273-290.UIN Ar-Raniri Banda Aceh.

     

    Thatcher. Virginia S. (Ed.). t.t. The New Webster Encyclopedic Dictionary of The English Language. Chicago: Consolidated Book Publisher.

     

    Ubaidillah. 2009. Kesalahan Pembentukan  Frasa Bahasa Arab oleh Pembelajar Bahasa Arab Studi Kasus pada Mahasiswa Fakultas  Adab dalam Adabiyyat Jurnal Bahasa dan Sastra. Vol.8 No.1. kategori. 1-28.

     

    al-Yaari, Sadeq Ali Saad. 2013. ‘Oral Grammatical Errors of Arabic as Second Language (ASL) Learners: An Applied Linguistic Approach’dalam International Journal of English Language Education.ISSN 2325-0887.2013, Vol. 1, No. 2, Special Issue. Hal.55-90.

     

    Zahrān, Badrawī. 2008. ‘ilmu al-Lughah al-tathbiqī fi al-majāl al-taqābulī (tahlil al-akhta’). Kairo: Dar al-āfāq al-‘arabiyah.

     

    Zaini, Hisyam. 2011. ‘Kesalahan Gramatikal dalam Penulisan Skripsi Berbahasa Arab oleh Mahasiswa Fakultas Adab UIN SunanKalijaga Yogyakarta. Dalam Lisania Jurnal Ilmu dan Pendidikan Bahasa Arab’ Vol. 2. Nomor 1 Juni 2011. Kategori. 1-20.

     

    [1] Artikel ini adalah bagian dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Minat Kajian Timur Tengah Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

    [2] Supardi (kandidat doktor  dalam Minat Studi Kajian Timur Tengah konsentrasi linguistik Arab) dan Syamsul Hadi, Soepomo Pudjosoedarmo, Suhandano adalah Promotor dan Co-Promotor dalam penulisan disertasi tersebut.

    No Comments
  • Sillabi

    No Comments
  • RENCANA PERKULIAHAN “MICRO-TEACHING PBA”

    Pertemuan 1: Penjelasan Micro-Teaching & Learning Contract
    Pertemuan 2: Ketrampilan- Ketrampilan Mengajar Bahasa Arab
    Pertemuan 3: Ketrampilan Variasi Mengajar Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Effektif, Menyenangkan, Menggembirakan dan Berbobot (PAIKEM-GEMBROT) Bahasa Arab
    Pertemuan 4: Praktek Micro-Teaching 1 (4 Mhs)
    Pertemuan 5: Praktek Micro-Teaching 2 (4Mhs)
    Pertemuan 6: Praktek Micro-Teaching 3(4 Mhs)
    Pertemuan 7: Praktek Micro-Teaching 4 (4 Mhs)
    Pertemuan 8: MID SEMESTER
    Pertemuan 9: Praktek Micro-Teaching 5 (4 Mhs)
    Pertemuan 10. Ujian Micro-Teaching 1
    Pertemuan 11: Ujian Micro-Teaching 2
    Pertemuan 12: Ujian Micro-Teaching 3
    Pertemuan 13: Ujian Micro Teaching 4
    Pertemuan 14: Ujian Micro-Teaching 5

    No Comments
  • تخطيط الدراسى
    Course Plan

    المحاضرة Course/ : الترجمة 1 Arabic Translation 1
    أهداف الدراسى : يستطيع الطالب ⁄ ة أن يبين نظرية الترجمة من العربية إلى الأندونيسية
    يستطيع الطالب ⁄ ة أن يترجم النصوص العربية إلى الأندونيسية على منهاج ركيبي
    المحاضر : سوباردى عبد الصواب
    رقم التاريخ المواد الدراسية المناقش⁄ة
    1 المقدمة : الترجمة النظرية
    Introduction: Translation Theory
    2 اختلاف اللغوى العربى و الأندونيسي
    Indonesian and Arabic Linguistic Differences
    3 الأخطاء الشائعة للترجمة العربية إلى الأندونيسية
    General Mistakes of Arabic-Indonesian translation
    4
    ترجمة الإسم Translating Arabic Noun
    5 ترجمة الفعل والزمنTranslating Verb and tense
    6 ترجمة الحرف Translating Particle

    7 ترجمة التركيب الإضافى
    Translating Noun Phrase
    8
    الإمتحان للنصف المرحلة

    9 ترجمة التركيب الوصفى Translating Adjective Phrase

    10 ترجمة الجملة الفعلية: فعل لازم
    Translating Verbal Sentence with intransitive verbs
    11 ترجمة الجملة الفعلية : فعل متعدي
    Translating Verbal Sentence with transitive verbs
    12 ترجمة الجملة الإسمية
    Translating Nominal Sentences
    13 ترجمة التوكيد
    Translating Emphatics
    14 ترجمة نعت الجملة Translating Relative Clause

    15
    16 الإمتحان النهائ
    تخطيط الدراسى
    Course Plan

    المحاضرة Course/ : الترجمة 2Arabic Translation 2
    أهداف الدراسى : يستطيع الطالب ⁄ ة أن يترجم النصوص العربية إلى الأندونيسية
    المحاضر : سوباردى عبد الصواب
    البريد الإليكترونى : supardi_abdillah@hotmail.com
    رقم المحمول : 088 216 292 399

    رقم التاريخ المواد الدراسية المناقش⁄ة
    1 المقدمة
    Introduction المحاضر
    2 ترجمة الجملة الشرطية
    Translating Conditional Sentences
    3 Menerjemahkan Subyek dan Obyek yang berupa Klausa
    4 ترجمة الجملة المعترضة
    Menerjemahkan jumlah Mu’taridhah
    5 ترجمة الفعل المبنى المعلوم
    Menerjemahkan Mabni Ma’lum (Diatesis Aktif) bermakna pasif
    6 ترجمة إسم الموصول
    Menerjemahkan Isim Maushul (Pronomina Relative ) dan Min Bayaniyah
    7-8 الإمتحان للنصف المرحلة
    9 –
    10 ترجمة النصوص العربية
    11 ترجمة النصوص العربية
    12 ترجمة النصوص العربية
    13 ترجمة النصوص العربية
    14 ترجمة النصوص العربية
    15 الإمتحان النهائ
    16

    No Comments
  • PENERJEMAHAN KALA BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA

    Supardi
    Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
    Jl Tentara Pelajar 02 Salatiga
    Email: supardi_abdillah@hotmail.com

    Abstract
    This article examines the translation of Arabic tense expression into Indonesian. This library research employs a descriptive analysis method based on Catford’s theoretical translation framework. This study finds that from the extension and rank of translation perspective, the tense expression in Arabic can be translated in full translation into Indonesian, in which all of the Arabic tense expression can be found its equivalence in Indonesian; but a certain cases the translation of Arabic verbs both mādī (perfect) and mudāri’ (imperfect) have to be added an Indonesian adverbial temporal, the auxiliary verb kāna, which usually combined with mudāri’ verb in Arabic past tense is translated into Indonesian adverb of time: “dulu”, “dahulu”, or “tadi”. The expression of Arabic future tense constitutes mudāri’ verb, prefix “sa_” or particle “saufa” also translated into “akan”. The mādī (perfect) verb which is used in the context of praying is translated into “semoga” following with Indonesian equivalence verb. In short, the Arabic tense expression can be translated into Indonesian.

    Artikel ini bertujuan untuk meneliti penerjemahan pengungkapan kala dalam Bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian pustaka ini menggunakan metode kajian berdasarkan teori terjemah Catford. Artikel ini menemukan bahwa Pertama, dari segi ekstensi, pengungkapan kala bA dapat diterjemahkan secara penuh, di mana setiap alat pengungkap kala bA, yaitu verba mādhī dan mudhāri’, adverbia temporal, verba bantu kāna, dapat ditemukan padanannya dalam bI, sedangkan dari segi tataran linguistik, maka pengungkap kala bA yang berupa verba mādhi dan verba mudhāri’ diterjemahkan secara terikat dengan verba bI, begitu pula untuk adverbia temporal, sedangkan untuk verba bantu kāna diterjemahkan secara bebas dengan ‘dulu’, ‘dahulu’, ‘tadi’, atau tidak diterjemahkan sama sekali berdasarkan kontek kalimatnya., Kedua, secara umum pengungkapan kala dalam bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tetapi pada kontek-kontek tertentu perlu ditambahkan leksem-leksem waktu yang sesuai karena dalam bI tidak terdapat pengungkapan kala dalam verbanya; Ketiga, dalam penerjemahan kala bA ke dalam bI hendaknya lebih memperhatikan konteks (siyāq) dari pada bentuk kata kerjanya, karena setiap bentuk verba bA tertentu, tidak selamanya menunjukkan kala tertentu di dalam konteks kalimat.

    Key Words: penerjemahan, kala, Arab, Indonesia

    A. PENDAHULUAN
    Kala yang dalam bahasa Inggrisnya “tense” berasal dari bahasa Perancis Kuno, dari terjemahan Latin kata Yunani untuk “time” (Yunani: khronos, Latin: tempus). Kategori kala berhubungan dengan waktu sejauh itu diungkapkan dengan kontras gramatikal yang sistematis (Lyons, 1995: 298). Tiga macam kontras seperti itu dikenal oleh ahli-ahli tata bahasa tradisional dalam analisis bahasa Yunani dan Latin adalah: “past” (lampau), “present” (kini), dan “future” (mencontohng) (Lyons, 1995: 298). Dengan kata lain, kala atau tenses adalah kategori gramatika kata kerja yang dinyatakan dengan perbedaan gramatik dengan melihat waktu pengerjaan kegiatan dan saat pengujaran (Alwasilah, 1990: 134).
    Setiap bahasa memiliki sistem yang berbeda dalam mengungkapkan kala. Bahasa Arab mengekspresikan kala dengan verba dan satuan–satuan lingual yang berupa adverbial temporal yang tidak rigid dan sangat tergantung pada konteks. Jadi, bahasa Arab memiliki dua macam kala yaitu kala morfologis, al-zaman al-sharfi dan kala sintaksis, al-zaman al-nahwi (Hassan, 1979: 240-8). Secara morfologis, verba madī menunjukkan makna lampau, demikian pula verba mudāri’ menunjukkan makna sekarang dan mencontohng, tetapi dalam konteks sintaksis makna kala dari dua verba tersebut sangat tergantung pada konteks kalimat, siyaq al-kalam.
    Dipihak lain, dalam bahasa Indonesia kala diungkapkan dengan satuan-satuan lingual atau unsur leksikal yang berupa kata, frase, dan klausa dan tidak ada perubahan pada verbanya. Perbedaan ini akan menimbulkan problem linguistik tersendiri dalam penerjemahan kala bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
    Mengingat persoalan kala dalam bahasa Arab sangat kompleks di mana verba bahasa Arab tidak hanya mengungkapkan kategori gramatika kala tetapi aspek dan modus sekaligus yang saling berkelindan seperti كان قد فعل, dimana menunjukkan kala dan aspek sekaligus, yaitu menunjukkan lampau dekat, tidak dibahas disini, maka pengungkapan kala bahasa Arab dalam artikel ini mengacu pada rumusan Tajuddin Nur (2007) sebagaimana diuraikan dalam pembahasan dan terbatas pada contoh-contoh kalimat sempurna walaupun tergolong pendek dan tidak pada wacana yang lebih luas.
    Dari latar belakang diatas, maka artikel ini akan menjawab pertanyaan pertanyaan berikut: (1) Bagaimanakah penerjemahan kala bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dilihat dari perpektif terjemah Catford? (2) Sejauh mana keterjemahan pengungkapan kala bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? (3) Bagaimanakah cara penerjemahan pengungkapan kala dalam bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia?
    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis melakukan penelitian pustaka, library research. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kajian, yaitu metode yang digunakan dalam penelitian bahasa yang bertitik tolak dari contoh yang dikumpulkan (secara diskriptif) berdasarkan teori (pendekatan) linguistik (Djajasudarma, 1993: 57). Metode kajian memerikan bagaimana contoh dipilah dan diklasifikasikan berdasarkan pendekatan yang dianut.
    Di samping itu, penulis memanfaatkan teori terjemah dari J.C. Catford. Teori ini dipakai karena teori ini memandang penerjemahan dari perspektif linguistik. Penulis hendak melihat keterjemahan atau ketakterjemahan kala bA ke dalam bI dari sudut pandang linguistik ini. Menurut Catford, penerjemahan adalah: “the replacemant of textual material in one langauge by equivalent tektual material in another langauge, (Catford, 1965: 20). Jadi penerjemahan adalah penggantian suatu materi tektual dalam suatu bahasa dengan materi tekstual yang padan dalam bahasa lain.
    Materi tekstual atau teks pada definisi tersebut tidak harus diartikan teks tertulis tetapi mencakup pengertian yang luas yaitu satuan bahasa yang paling lengkap dan dapat juga bersifat sangat abstrak, yang dapat berwujud bahasa lisan maupun bahasa tulis berupa kata, serangkaian kata-kata, frase, klausa, kalimat, atau paragraf yang memuat dan memberikan pesan yang lengkap. Teks secara singkat dapat dimaknai sebagai bahan atau naskah yang akan diterjemahkan; sedangkan kata equivalent ‘padanan’ juga harus diartikan lebih luas yaitu tidak saja menyangkut padanan formal bahasa yang berupa padanan kata per kata, frase per frase, atau kalimat per kalimat, melainkan padanan makna atau pesan.
    Catford memerikan terjemah dari sudut linguistik umum dan kemudian membaginya dalam tiga kategori umum, sebagai berikut: Pertama, terjemah yang didasarkan pada rentang ‘extent’ keluasan bahasa sumber yang akan diterjemahkan. Maksudnya, seberapa jauh bahasa sumber itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran, atau bagian-bagian tertentu saja yang dapat dipindahkan ke dalam bahasa sasaran. Dari segi keluasannya ini, penerjemahan dibagi menjadi dua yaitu seluruh atau sebagian ‘full’ dan ‘partial’.
    a) Terjemah penuh
    Terjemah penuh atau ‘full translation’ berarti setiap bagian dari BSu digantikan oleh materi teks pada BSa, yakni setiap bagian dari naskah BSu dialihkan dengan padanannya di dalam BSa. Misalnya:
    (1) فى يوم السفر ؛ حمل الته الموسيقية “الأروج ” إلى سيارة صغيرة (ARA:12)
    Fi Yaumi al safar Hamala
    (p/m/t) Alatihi almusiqiya Al-Arwaj Ila Sayarotin
    Saghiratin
    Pada Hari itu- berpergian Membawa
    (p/m/t) Alat-alat-musik nya Al-Arawaj Ke mobil kecil
    Saat hari keberangkatan, Ia (Iryan) membawa seperangkat alat musik ke dalam mobil kecil

    Setiap bagian dari kalimat di atas dapat diterjemahkan secara penuh, dimana setiap bagian dari kalimat tersebut ditemukan padanannya dalam BSu yaitu bI.
    b) Terjemah Parsial
    Terjemah parsial bermakna bahwa ada bagian atau beberapa bagian dari BSu yang tidak diterjemahkan ke dalam BSa. (Catford, 1965: 21). Maksudnya ada bagian tertentu yang dibiarkan tidak diterjemahkan atau ditulis sebagaimana bahasa aslinya dan tidak diterjemahkan. Sejauh telaah penulis pengungkapan kala bahasa Arab dapat diterjemahkan secara penuh.
    Kedua, terjemahan yang didasarkan pada tingkatan ‘level’. Berdasarkan pada tingkatan ini terjamah dikelompokkan menjadi menyeluruh/tuntas ‘total’ dan terbatas ‘restricted’. Dalam penerjemahan tuntas, penerjemahan dilakukan dengan pengalihan tata bahasa dan kosakata BSu dengan padanan tata bahasa dan kosa kata BSa yang disertai dengan pengalihan fonologi/grafologi BSu dengan fonologi/grafologi BSa yang bukan padanannya.
    Terjemahan terbatas ‘restricted translation’ dimaksudkan untuk pengalihan materi tektual BSu dengan materi tekstual padanannya pada satu tataran yaitu tataran fonologi, grafologi, tata bahasa, atau kosa kata. Misalnya, kata yusallūna pada kalimat يصلون المسلمون diterjemahkan dengan ‘sholat’ saja tidak diterjemahkan ‘mereka sholat’ mengingat dalam bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan verba bentuk jamak. Jadi diterjemahkan pada tataran kosa kata saja.
    Ketiga, terjemah yang didasarkan pada tataran linguistiknya. Tataran merujuk pada hirarkhi gramatikal atau fonologi di mana kesejajaran dalam penerjemahan dilakukan. Catford membagi tataran terjemah menjadi dua yaitu terikat dan bebas.
    a) Terjemah terikat
    Terjemah terikat ‘bound translation’ adalah jenis terjemah yang terbatas secara lebih khusus kepada terjemah pada tataran kata dan morfem saja, atau frase dengan frase, atau kalimat dengan kalimat, yaitu penggantian kosa-kata dan morfem BSu dengan padanannya kosa kata dan morfem BSa, frase BSu dengan frase BSa, atau kalimat BSu dengan kalimat BSa. Penerjemahan terikat ini biasanya tidak terjadi penerjemahan pada tataran yang lebih tinggi dari pada tataran kata dan morfem yaitu struktur dan gramatika. Istilah terjemahan kata per kata dan penerjemahan literal termasuk dalam jenis ini. Misalnya, (2) وعندى ثلاثة كتب , diterjemahkan: ‘dan disisiku tiga buku-buku’. Penerjemahan tersebut terikat pada padanan kosa kata dan morfem saja. Jadi lima kosa kata dalam BSu digantikan oleh lima kata pada BSa tanpa mengubah posisi sedikitpun.
    b) Terjemah bebas
    Terjemah bebas ‘free translation’ adalah jenis terjemah tuntas yang tidak dibatasi oleh keterikatan pada penerjemahan suatu tataran tertentu. Jenis terjemahan ini selalu lebih tinggi dari tataran kata dan morfem, bahkan mungkin lebih luas dari tatatan kalimat. Dengan kata lain, terjemahan tuntas yang didalamnya kesejajaran unit-unit gramatika diganti secara bebas (Catford, 1965: 24-25). Misalnya:
    (3) فى أن المال أصل عظيم من أصول الفساد لحياة الناس أجمعين
    diterjemahkan: “Harta sumber malapetaka” .
    Apabila diperhatikan terjemah tersebut, tampak bahwa penerjemah tidak terikat oleh struktur gramatika atau struktur makna BSu, tetapi memunculkan perspektif tersendiri, tanpa kehilangan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis BSu. Jika penerjemah penerjemah masih terikat pada struktur dan gramatika BSu, maka terjemahan menjadi ‘bahwa harta merupakan sumber terbesar kehancuran bagi kehidupan umat manusia’.
    Dari tiga macam kategori terjemah tersebut, dapat disimpulkan kata kunci dari teori Catford adalah equivalent ‘padan’. Maka makna terjemah menurut Catford dengan sendirinya adalah pesan dalam wacana alihan akan sebanding dengan pesan pada wacana asli. Sebaliknya jika wacana alihan dan wacana asli tidak sepadan maka wacana alihan tidak dianggap sebagai suatu terjemahan (Catford, 1965: 20-4). Berikut ini analisis penerjemahan pengungkapan kala dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
    B. PENERJEMAHAN KALA BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA
    1. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dari bA ke bI
    Kala lampau dalam bA diungkapkan dengan verba mādī (perfek), verba mādī plus adverbial temporal, verba bantu kāna dikombinasikan verba mudhāri’, dan verba bantu kāna dalam kalimat ekuasional, maka dalam bagian ini akan dianalisis bagaimana penerjemahan dari masing-masing pengungkapan tersebut ke dalam bI.
    a. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Mādī (Perfect)
    (4) فى يوم السفر ؛ حمل الته الموسيقية “الأروج ” إلى سيارة صغيرة (ARA:12 (
    Fi yaumi al-safar hamala (p/m/t) alatihi al musiqiyyah ‘al arwaj’ ila sayāratin shaghīratin.
    Pada hari itu-keberangkatan, membawa (p/m/t)/dia = Iryan alat-alat –nya- musik ‘al arwaj’ ke dalam mobil kecil.
    Saat hari keberangkatan, Iryan membawa seperangkat alat musik ke dalam mobil kecil.

    Pada contoh no (4), tampak bahwa kala lampau dalam bA diungkapkan dengan verba mādī: ‘hamala’, yang diterjemahkan ‘membawa’. Setiap kalimat dari contoh tersebut juga diterjemahkan tanpa memberikan tambahan kata keterangan waktu, karena konteks kalimat kalimat tersebut dianggap telah dipahami pembaca bahwa kalimat tersebut telah terjadi pada masa lampau, sehingga tidak diperlukan penambahan leksem-leksem waktu dalam penerjemahannya karena waktu sudah dapat dipahami dari konteks kalimat tersebut.
    Peristiwa ‘membawa’, tersebut merupakan cerita yang ditulis oleh penulis novel yang merupakan peristiwa di masa lampau, sehingga penerjemahan verba-verba mādī tersebut tanpa menambahkan leksem-leksem waktu dalam bI, tanpa memberikan kata keterangan waktu lampau, karena peristiwa tersebut menggambarkan peristiwa pada masa turunnya al-Qur’an yang telah terjadi pada masa lampau.
    Sering ditemukan sebagian orang menerjemahkan setiap verba mādī dengan dengan menambahkan kata ‘telah’ atau ‘sudah’ sebelum verba bI. Penerjemahan semacam ini tidak selamanya tepat karena ‘sudah’ atau ‘telah’ bukan pemarkah kala dalam bI, tetapi pemarkah aspektual bI.
    Dari contoh tersebut tampak bahwa penerjemahan pengungkapan kala lampau bA dengan verba mādī diterjemahkan dengan padanan verba tersebut dalam bI tanpa menambahkan leksem-leksem waktu karena konteks peristiwa telah diasumsikan berada dalam waktu lampau dan telah dipahami oleh pembaca. Dalam perpektif teori penerjemahan Catford, dari segi ektensinya, verba mādī dapat diterjemahkan secara penuh ke dalam verba bI padanannya. Hal ini berarti bahwa verba mādī bA dapat ditemukan padanannya dalam bI. Dari sisi tingkatan linguistiknya, terjemahan ekspresi lampau tersebut juga dapat diterjemahkan secara tuntas, dan dari segi tataran linguistik, verba mādī diterjemahkan secara terikat dengan verba bI padanannya.
    b. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Mādī disertai adverbia temporal

    (5) وقد بدأ أمس رئيس الجمهورية اميل لحود زيارة لبولونيات (AKAN, 2004: 1)
    Wa qod bada’a (p/m/t) ‘amsi raisu al jumhūriyati Emile Luhd ziyārata li Polonia
    Dan telah mulai kemarin Presiden Emile Luhd kunjungan untuk Polonia
    Presiden Emile Luhud telah memulai kunjungan ke Polinia kemarin.
    Pada contoh (5) di atas, kala lampau diungkapkan dengan verba mādī bada’a (memulai) plus adverbia temporal ‘amsi (kemarin); Contoh pengungkapan kala lampau dengan verba mādī plus adverbia temporal tersebut diterjemahkan ke dalam bI dengan padanan masing-masing verba dan adverbia temporal dalam bI. Dalam bA keberadaan verba mādī telah menunjukkan kala lampau dan adverbia temporalnya menunjukkan spesifikasi kala lampaunya. Dalam penerjemahanya tampak bahwa verba mādī diterjemahkan dengan padanannya dalam bI dan terjemahan kata keterangan waktu itulah yang sebenarnya menjadi penanda kala dalam bI, karena dalam bI penanda kala adalah leksem keterangan waktu.
    c. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Bantu Kāna disertai Verba Mudāri’

    (6) كان يحب الشعر و الشعراء AGOAL,VOL. 2, 2002:21
    Kāna yuhibbu (i /m/ t) si’ra wa syu’arā΄
    Dulu suka-dia (I /m /t) syair dan para penyair.
    (Dulu) dia suka syair dan penyair.

    (7) كان يركب فى كل يوم عدة مرار ( (AGOAL,VOL. 2, 2002:21
    Kāna yarkabu ( i/m/t) fi kulli yaumin ‘idcontoh mirarin
    Dulu naik-dia ( i/m/t) tiap hari beberapa kali
    Dulu dia (biasa) naik sepeda setiap hari beberapa kali

    Dalam contoh tersebut verba bantu kāna yang secara leksikal berarti “ada, terdapat, terjadi” (Munawir, 1994: 1241) diterjemahkan ‘dulu/dahulu’ ketika didepannya terdapat verba mudhāri’. Verba kāna ketika digabungkan dengan verba mudāri’ maka menjadi verba bantu dan menjadi penanda kala lampu. Verba mudāri’ dalam contoh-contoh diatas diterjemahkan kata perkata; ‘yuhibbu’- ‘senang’ dan ‘yarkabu’ – ‘naik’. Jadi penanda kala lampau verba bantu kāna diterjemahkan “dulu/dahulu”. Tetapi penerjemahan kāna dengan “dulu” atau “dahulu” tidak mutlak dinyatakan dalam kalimat bila kontek kalimat telah dipahami misalnya dalam kontek cerita yang waktunya telah dijelaskan pada paragraph-paragraf sebelumnya. Di samping itu kāna sendiri secara aspektual juga menyatakan kebiasaan dimasa lampau, hal ini dapat dilihat dari terjemahan dalam Bahasa Inggris yang diterjemahkan dengan “used to” yang merupakan pengungkapan kebiasaan masa lampau (Azar, 1993: 101, 104). Maka kāna di samping diterjemahkan “dulu” atau “dahulu”, dapat juga ditambahkan kata “biasa”, sehingga terjemah lengkapnya menjadi “dulu/dahulu biasa”.
    Apabila kata kerja bantu kāna dihilangkan maka kalimat-kalimat tersebut akan mengalami perubahan kala yaitu menjadi kala kini atau mungkin kala mencontohng. Perhatikanlah tabel perbandingan penerjemahan berkut ini:
    Dengan Kāna Tanpa Kāna
    (8) كان يحب الشعر و الشعراء
    (Dulu) dia suka syair dan penyair يحب الشعر و الشعراء
    Dia suka syair dan penyair
    (9) كان يركب فى كل يوم عدة مرار
    (Dulu) dia (biasa) naik sepeda setiap hari beberapa kali يركب فى كل يوم عدة مرار
    Dia naik sepeda setiap hari beberapa kali

    Tabel tersebut menunjukkan bahwa apabila verba mudāri’ didahului oleh kata kerja bantu kāna maka menjadi kala lampau dan penerjemahannya di tambahkan kata ‘dulu’ atau ‘dahulu’ untuk menunjukkan kala lampau tersebut. Sebaliknya jika kāna dihilangkan maka verba mudāri’ tersebut menunjukkan kala kini dan penerjemahnnya tidak perlu dengan menambahkan ‘dulu’ atau ‘dahulu’.
    d. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampu dengan Verba Bantu Kāna dalam Kalimat Ekuasional

    (10) كنت مدرس
    Kuntu ( kkb/p) mudarrisun
    (kkb/p) Dulu –Saya guru
    (Dulu) Saya seorang guru

    Contoh (10) diatas menunjukkan bahwa verba bantu kāna dalam kalimat ekuasional menunjukkan kala lampau dan diterjemahkan dengan “dulu/ dahulu” atau “tadi”. Pada contoh (10) verba madhi “kuntu” yang secara harfiah diterjemahkan “saya ada” diterjemahkan “dulu saya” atau dengan diterjemahkan “Saya” bila kontek kalimat sudah dipahami. Maka “kuntu mudarrisun” diterjemahkan “(Dulu) Saya seorang guru”.
    e. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau BA dengan Lam dan Verba Mudāri’

    (11) لم يحدث هذا
    Lam yahduts (i/m/t) hadza
    Belum terjadi (i/m/t) ini.
    Ini belum terjadi

    Contoh pengungkapan kala dengan lam dan verba mudāri’ diatas yaitu ‘Lam yahduts (i/m/t) hadza’ “ hal ini belum/tidak terjadi”. Pakar Bahasa Arab menganggap bahwa peristiwa ini masuk dalam kala lampau. Mereka memaknai bahwa suatu peristiwa tidak terjadi pada masa yang lampau. Mereka mengatakan bahwa jika verba mudāri’ didahului oleh lam atau lamma, huruf-huruf atau partikel Jazm / jussive maka verba mudāri’ tersebut kalanya menjadi lampau (Hasan, 2004: 61, Idris, 2008: 173).
    Dari contoh tersebut tampak bahwa verba mudāri’ masing-masing diterjemahkan dengan verba padanannya dalam bI, yaitu yahdu۬s: terjadi, sedangkan partikel negasi “lam” diterjemahkan tidak. Jadi penerjemahan ini, bila ditinjau dari perspektif Catford adalah terjemah penuh dari segi ekstensinya, parsial dari segi tingkatan linguistiknya dan terjemah terikat dari segi tatarannya.
    2. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini BA ke dalam BI
    a. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mudāri’
    (12) أدرس اللغة العربية لمدة سنة فى جامعة القاهرة (BPBA: 2006: )
    Adrusu (i/mf/t) al lughah al ‘arabiyah li muddati sanatin fi jāmi’ati al- qāhirah.
    Belajar (i/mf/t) –saya Bahasa Arab selama satu tahun di universitas Kairo
    Saya belajar bahasa arab selama setahun di Universitas Kairo

    Contoh (12) menunjukkan pengungkapan kala kini dalam bA dengan verba mudāri’ dan terjemahnya. Pada contoh (12), “Adrusu al lughah al ‘arabiyah li muddati sanatin fi jāmi’ati al qāhirah” yang diterjemahkan dengan “Saya belajar bahasa arab selama setahun di Universitas Kairo” tampak bahwa verba mudāri’ “adrusu” diterjemahkan “belajar” tanpa ditambahkan keterangan waktu, karena kalimat tersebut berupa pernyataan yang kontek waktunya adalah pada saat berbicara atau saat kalimat tersebut diucapkan “the time of speaking”. Dari contoh tersebut, verba mudāri’ diterjemahkan secara literal dengan padanannya pada BSa, yaitu bI.
    Contoh tersebut mengindikasikan bahwa pengungkapan kala kini dengan verba mudāri’ diterjemahkan dengan kata kerja padanannya dalam bI tanpa menambahkan kata keterangan waktu kini karena kontek kalimatnya pada saat bicara atau kala kini. Dalam perpektif Catford, dari segi kestensinya, pengungkapan kala kini dalam bA dengan verba mudāri’ dapat diterjemahkan secara penuh dengan verba padanannya dalam bI, begitu pula dari segi tingkatan linguistiknya diterjemahkan secara tuntas, dan dari tataran linguistiknya diterjemahkan secara terikat dengan verba padannannya dan bukan jenis kata lain.
    b. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mudāri’ Plus Adverbia Temporal

    (13) الأمير عبد العزيز يرأس اجتماع لجنة الحج المركزية اليوم
    /Al-‘amiru ‘abdu ‘al-‘zīzi yar’asu (i/m/t) ‘ijtimā’a lajnati al-hajji ‘almarkaziyyati ‘al-yauma. (SKAR: 2, dalam nur, 2007: 123).
    Itu-pangeran Abdul Aziz memimpin (i/m/t) rapat panitia itu-haji itu-pusat hari ini
    Pangeran abdul Aziz memimpin rapat panitia haji pusat hari ini.

    Contoh (13), “Al-‘amiru ‘abdu ‘al-‘zīzi yar’asu (i/m/t) ‘ijtimā’a lajnati al-hajji ‘almarkaziyyati ‘al-yauma” , ‘Pangeran abdul Aziz memimpin rapat panitia haji pusat hari ini’ (SKAR: 2, dalam Nur, 2007: 123), menunjukkan bahwa verba mudāri’ dan adverbia temporal “al-yauma” masing masing diterjemahkan “memimpin” dan “hari ini” sebagai padanan masing-masing dalam BSa, hanya saja penerjemahan keterangan waktu dalam bI menunjukkan kala kini dalam bI, sementara dalam bA, verba mudāri’ telah menunjukkan kala kininya.
    c. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mādī
    Salah satu pengungkap kala kini dalam bA adalah verba mādī. Verba ini secara umum mengungkapkan kala lampau, tetapi dalam konteks- konteks tertentu, seperti ungkapan pada saat berbicara, at the time of speaking, verba ini menunjukkan kala kini. Hal ini dapat disimak dalam contoh berikut ini:
    (14) فهمت
    Fahimtu (p/mf/t) (MSA 1: 342, dalam nur, 2007: 124).
    Mengerti-saya (p/mf/t)
    Saya mengerti

    Contoh (14), “Fahimtu”, terjemahnya “Saya mengerti” menunjukkan bahwa verba mādī tersebut diterjemahkan secara literal, tanpa ditambahkan kata keterangan waktu kini, walaupun pernyataan tersebut menunjukkan waktu kini, karena konteknya adalah pada saat bicara. Dari perspektif Catford, penerjemahan tersebut dari sisi ekstensinya menyeluruh, tingkatannya terbatas pada kosa kata, dan dari tatarannya terikat kosa katanya hanya susunan kalimat yang berubah.
    3. Penerjemahan Pengungkapan Kala Mendatang dalam BA ke dalam BI
    Pada dasarnya kala mencontohng dalam bA diungkapkan dengan verba mudāri’, prefiks ‘sa-…’ dan partikel ‘saufa’ plus verba mudāri’, verba mudāri’ plus adverbia temporal, dan verba mādī dalam kontek-konteks tertentu. Berikut ini diuraikan penerjemahan pengungkapan kala mencontohng tersebut secara rinci:
    a. Penerjemahan Pengungkapan kala Mencontohng dengan Verba Mudāri’
    (15) إن الله يدخل الذين أمنوا و عملوا الصالحات جنات … (الأية)
    /Inna al-Laha yudkhilu (i/m/t) alladzina amanu wa ‘amilu al shālihati jannātin…(QS22: 14).
    Sesungguhnya Allah dia-memasukkan (i/m/t) itu-orang-orang yang beriman (p/m/pl) dan mengerjakan (p/m/pl) itu amal saleh surga-surga…
    Sesungguhnya Allah (akan) memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga-surga.

    Verba mudāri’ “yudkhilu” pada contoh no (15), Inna al-Laha yudkhilu (i/m/t) alladzina amanu wa ‘amilu al shālihati jannātin…(QS22: 14)” diterjemahkan “(akan) memasukkan”, dan ditambahkan kata “akan” secara opsional. Kata ‘akan’ merupakan partikel tambahan untuk menyatakan kala verba mencontohng dalam bI. Dari dua contoh contoh menunjukkan bahwa kedua peristiwa dalam kata kerja tersebut akan terjadi pada waktu yang akan contohng, maka dalam penerjemahannya ditambahkan kata ‘akan’ .Dengan demikian, maka penerjemahan penerjemahan verba mudāri’ dalam kontek peristiwa yang terjadi pada masa yang akan contohng dapat ditambahkan kata “akan”.
    Jika verba mudāri’ yang mengungkakan kala mencontohng ini diterjemahkan dengan verba padanannya saja, maka akan menjadi tidak jelas perbedaan antara verba mudāri’ yang mengungkapkan kala kini dan kala mencontohng. Maka dengan pertikel “akan” tersebut dalam bI dapat dipahami bahwa peristiwa tersebut akan terjadi pada waktu mencontohng. Jadi verba mudāri’ yang mengungkapkan peristiwa mencontohng diterjemahkan dengan “akan” dan verba bI padanannya. Dari perspektif Catford, dari segi ekstensi, tingkatan dan tataran linguistinya, maka terjemahan tersebut bersifat menyeluruh, tuntas, dan terikat.
    b. Pengungkapan Kala Mencontohng dengan verba Mudāri’ plus Adverbia temporal

    (16) تعقد الندوة فى يومى الجمعة و السبت الأتى
    /Tu’qadu (i/f/t) ‘al-nadwatu fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī./
    Diadakan itu-seminar pada hari itu-jumat dan itu-sabtu itu-akan dating
    Seminar itu diadakan pada hari Jumat dan hari Sabtu yang akan dating

    Contoh (21), “Tu’qadu (i/f/t) ‘al-nadwatu fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī”, “Seminar itu diadakan pada hari Jumat dan hari Sabtu yang akan contohng”, menunjukkan bahwa pengungkapan kala mencontohng dengan verba mudāri’ ‘tu’qadu’ dan adverbia temporal “fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī”, diterjemahkan dengan padanannya masing-masing dalam bI yaitu “diadakan” dan “pada hari Jum’at dan Sabtu yang akan contohng”.
    Contoh diatas mengindikasikan bahwa pengungkapan kala mencontohng dalam bA diterjemahkan ke dalam bI dengan padanan masing-masing baik itu verba maupun adverbia temporalnya, tetapi secara gramatika verba dalam bA menunjukkan kala mencontohng sekaligus, sedangkan dalam terjemah bI verba tidak menunjukkan kala, tetapi terjemah kata keterangan waktu yang berfungsi menunjukkan kala.
    c. Penerjamahan Pengungkapan kala Mencontohng dengan Verba Mudāri’ yang didahului oleh Prefiks ‘sa-’

    (17) سأقيم هناك فترة قد تطول[ARA: 6].
    /Sauqimu (i/m/t) hunāka fatratan qod tathūlu
    Akan saya-mukim (i/m/t) disana satu saat lama
    Aku akan bermukim disana sedikit lama atau bahkan lebih lama [SSC: 6].

    Verba ‘sa’uqimu’ ‘aku akan tinggal’ pada contoh (17) terdiri dari prefiks sa-yang diterjemahkan ‘akan’ sebagai pemarkah kala mencontohng dan verba mudāri’ ‘uqimu ‘aku tinggal’ . Prefiks ‘sa-’ ditas menunjukkan peristiwa yang akan terjadi di masa mencontohng yang waktunya relatif dekat menurut si pembicara dan diterjemahkan ‘aku akan tinggal’ dalam bahasa Indonesia. Secara teoritk, terjemahan kalimat tersebut bersifat menyeluruh, tuntas, dan terikat.
    d. Penerjamahan Pengungkapan Kala Mencontohng dengan Partikel Saufa dan Verba Mudāri’ ke dalam Bahasa Indonesia

    (18)
    سوف أرحل يا صوفيا [ARA: 6].
    Saufa arhalu (i/m/t) ya Sofia

    Akan saya pergi (i/m/t) wahai sofia

    Aku akan pergi, Sofia. [SSC: 10].

    Pada contoh (18), partikel ‘saufa’ ‘akan’ dan verba mudāri’ ‘arhalu ‘saya pergi’ ; maka ‘saufa ‘arhalu’ diterjemahkan ‘aku akan pergi’ mengungkapkan peristiwa pergi yang terjadi pada waktu yang akan contohng. Dari contoh diatas tampak bahwa penerjamahan pertikel ‘saufa’ ke dalam bI adalah ‘akan’, sedangkan verba mudāri’ sesudahnya yaitu arhalu ‘aku pergi’, diterjemahkan dengan padanannya masing- masing dalam bI secara literal.
    Di sisi lain, bentuk negasi dari prefiks sa dan partikel saufa yang menyatakan peristiwa atau perbuatan yang tidak akan terjadi pada masa yang akan contohng adalah dengan partikel ‘Lan’ diterjemahkan ‘tidak akan’ yang dikombinasikan dengan verba mudāri’, misalnya:

    (19) فلن أبرح الأرض حتى يأذن لى أبى
    Falan abraha (i/m/t) ardha hatta ya’dzana (i/m/t) lī abī (Q.S. 12: 80).
    Maka aku tidak akan meninggalkan (i/m/t) bumi hingga mengizinkan (i/m/t) aku ayahku
    Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri (Mesir) , sampai ayahku mengizinkan kapada ku (untuk kembali).(QS. Yusuf : 80).

    Pada contoh di atas, partikel negasi lan diterjemahkan ‘tidak akan’ dan ‘’abraha’ ‘aku meninggalkan’, jadi penerjemahan selengkapnya adalah “aku tidak akan meninggalkan negeri sampai ayahku mengizinkannku’. Jadi bentuk negasi dari prefiks sa maupun partikel saufa diantaranya dapat dinegasikan dengan “lan” yang dikombinasikan dengan verba mudāri’.
    e. Pengungkapan Kala Mencontohng dengan Menggunakan Verba Mādī
    Penggunaan verba mādhī untuk mengungkapkan kala mencontohng adalah dalam konteks-konteks tertentu yaitu:
    a. Menyatakan doa atau pengharapan
    Berikut ini dua contoh penerjemahan pengungkapan kala mencontohng dengan verba mādī dalam kontek doa atau pengharapan:
    (20) أضحك الله سنك
    ‘Adhhaka Allahu sinaka (DDS, 2004: 47)
    Membahagiakan Allah usia mu
    Semoga Allah membahagiakan usiamu

    (21) بارك الله فيك يا مصطفى!
    /Baraka (p/m/t) ‘al-Lāhu fīka yā Musthofā!
    memberkahi (p/m/t) Allah pada-mu hai Mustofa
    Semoga Allah memberkahimu hai Mustofa! (Nur, 2007:134).

    Contoh diatas yaitu (20), “’Adhhaka Allahu sinaka”, terjemahnya “Semoga Allah membahagiakan usiamu” menunjukkan bahwa verba mādī “’adhha” diterjemahkan dengan “membehagiakan” sebagai pandannya dalam bI, dan ditambahkan kata semoga karena konteknya adalah doa atau harapan dan tidak ada penambahan leksem waktu tertentu. Tetapi sudah dipahami konteknya yaitu harapan dan doa dimasa mencontohng.
    Contoh kedua (21), “Baraka (p/m/t) ‘al-Lāhu fīka yā Musthofā!”, “Semoga Allah memberkahimu hai Mustofa!”, verba mādī “Baraka” diterjemahkan dengan padanan verba dalam BSa yaitu ‘merahmati’ dan mendapatkan tambahan kata ‘semoga’ karena konteknya adalah doa atau pengharapan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa verba mādī dalam konteks doa diterjemahkan dengan padanan verba dalam bI dengan dikombinasikan dengan kata “semoga” di depannya.
    Dalam konteks doa, jika kata kerja “Baraka” tersebut diterjemahkan secara literal dengan verba padanannya saja “memberkahi” saja, maka akan menjadi kalimat berita saja. Misalnya contoh tersebut diterjemahkan “Allah memberkahimu Mustofa”. Dalam kalimat tersebut makna doa tidak begitu tampak karena dalam bI doa atau harapan biasa diungkapkan dengan partikel “semoga”. Jadi dalam kontek doa penerjemahan verba mādī menjadi “semoga” dan verba padanannya.
    b. Menggambarkan peristiwa yang akan terjadi dimasa mencontohng
    Berikut ini disajikan contoh-contoh yang berupa verba mādī yang menggambarkan peristiwa di masa yang akan contohng dan terjemahnya:
    (22) وعرضنا جهنم يومئذ للكافرين عرضا
    /Wa ’aradhnā (p) Jahannama yauma’idzin li–l-kāfirīna ‘ardhan./
    Dan menampakkan-Kami (p) Jahannam hari itu orang-orang kafir jelas
    ‘Dan akan Kami tampakkan (neraka) Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas’.(Q.S., 18: 100).

    Tampak dalam contoh (22), “Wa’ aradhnā (p) Jahannama yauma’idzin li–l-kāfirīna ‘aradhan”, “Dan akan Kami tampakkan (neraka) Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas’.(Q.S., 18: 100)”, bahwa penerjemahan verba mādī aradhna adalah dengan padanannya dalam bI dan ditambahkan kata “akan”, karena menunjukkan peristiwa yang akan contohng. Dari contoh ini tampak bahwa verba mādī yang digunakan untuk mengungkapkan peristiwa yang akan contohng diterjemahkan dengan verba padannannya dalam bI plus kata akan di depannya.
    c. Mengungkapkan kalimat kondisional
    Berikut ini dua sampel contoh yang mengungkapkan kala mencontohng bA dengan verba mādī dalam kontek kalimat kondisional atau pengandaian.
    (23) وإذامس الناس ضر دعوا ربهم
    /Wa ‘idza massa (p/f/t) ‘al-nāsu dhurrun, da’aū (p/m/pl) rabbahum…./(Q.S.30:33).
    Dan apabila menyentuh (p/m/t) manusia bahaya, menyeru-mereka (p/m/pl) tuhan-mereka.
    “Dan apabila menusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya…” (Q.S. 30: 33).

    (24) لو سمح لى وقت لزرت أوروبا
    /Lau samaha (p/m/t) liya ‘al-waqtu lazurtu (p) ‘Awrabbā./
    Jikalau mengizinkan (p/m/t) untuk-ku waktu niscaya mengunjungi/ melewati saya Eropa
    ‘Jikalau waktu mengizinkan , niscaya saya akan mengunjungi Eropa’

    Contoh (23), Wa ‘idza massa (p/f/t) ‘al-nāsu dhurrun da’aū (p/m/pl) rabbahum…., “Dan apabila menusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya…” (Q.S. 30: 33), menunjukkan bahwa dalam kalimat kondisional kala mencontohng contohng bA diungkapkan dengan verba mādī “da’aū”, yang diterjemahkan dengan “menyeru” dan tidak ditambahkan leksem waktu mencontohng dalam terjemah bI.
    Contoh (24), ‘Lau samaha (p/m/t) liya ‘al-waqtu lazurtu (p) ‘Awrabbā’, ‘Jikalau waktu mengizinkan , niscaya saya akan mengunjungi Eropa’, mengungkapkan bahwa dalam kalimat syarat /kondisional, verba mādī “zurtu” diterjemahkan “akan mengunjungi” yaitu dengan padanan kata kerja dalam bI dan kata “akan” didepannya sebagai penanda kala mencontohng. Dua contoh ini membuktikan bahwa dalam kalimat kondisional verba mādī menunjukkan kala mencontohng diterjemahkan dengan padanan kata kerja dalam bI dan dapat pula ditambahkan kata “akan” sebelumnya untuk memperjelas kalanya.
    Lebih lanjut, dari perspektif teori terjemah Catford, dapat dikatakan bahwa penerjemahan kala mencontohng yang diungkapkan dengan verba mādī dalam kontek kalimat pengandian adalah penerjemahan penuh dimana verba madhi ditemuka padanannya dalam BSa yaitu verba bi dan akan, sedangkan dari segi tataran linguistiknya ditemukan bahwa verba mādī bA tetap diterjemahkan dengan verba dan ditambahkan partikel akan, terjemahan ini disebut terjemahan terikat.
    d. Menyatakan peristiwa mencontohng setelah adverbia relatif ما/ mā/
    Berikut ini adalah contoh penerjemahan pengungkapan mencontohng dengan verba mādī dalam kontek peristiwa mencontohng setelah adverbial relatif /mā/:
    (25) ربما عدت إليك بعد قليل
    /Rubbamā ‘udtu (p) ilayka ba’da qolīlin. (MAP: 62, dalam Nur, 2007:136).
    Barangkali kembali-saya (p) kepadamu-mu setelah sebentar
    ‘Barangkali saya akan kembali kepadamu sebentar lagi’

    (26) سأشكرلك فضلك ماحييت
    /Sa ‘asykuru (i) laka fadhlaka māhayītu (p)
    Akan –saya-berterima kasih kepada-mu kebaikan-mu hidup-saya (p)
    ‘Saya akan berterima kasih kepadamu atas kebaikanmu selama hidupku.’

    Contoh (25), “Rubbamā ‘udtu (p) ilayka ba’da qolīlin’, ‘Barangkali saya akan kembali kepadamu sebentar lagi’” menunjukkan bahwa dalam kalimat yang mengandung relatif dengan ‘mā’, verba mādī ‘udtu diterjemahkan dengan verba padanannya dalam bI disertai kata “akan” sebagai penanda kala mencontohng. Hal ini terjadi juga dalam contoh (31)
    Contoh (26), “Sa’asykuru (i) laka fadhlaka māhayītu, Saya akan berterima kasih kepadamu atas kebaikanmu selama hidupku’, menunjukkan bahwa verba mādī “hayitu” diterjemahkan “selama hidupku” yang menyatakan kala mencontohng karena ungkapan “selama hidupku” berarti dari saat diucapkan hingga waktu mencontohng, dan diperjelas juga dengan ungkapan sa’asykuru, saya akan berterima kasih. Dua contoh ini membuktikan bahwa verba mādī setelah relatif ma diterjemahkan dengan “akan + kata kerja” atau kata kerja saja.
    Dari dua contoh tersebut tampak bahwa penerjemahan verba mādī diterjemahkan secara penuh dimana verba tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bi, sedangkan dari tataran linguistinya juga ditemukan bahwa verba ba tetap digantikan oleh verba bi padanannya. Dengan demikian dari perspektif teori terjemah Catford, dapat dikatakan bahwa terjemahan tersebut penuh dari segi keluasannya dan terikat dari segi tataran linguistiknya.
    C. KESIMPULAN
    Dari telaah tentang penerjemahan pengungkapan kala dari bA ke bI sebagaimana diuraikan dalam bab tiga maka dapat diambil kesimpulan-kesimpulan berikut:
    Pertama, (a) dari segi ekstensi atau sejauhmana keluasan BSu dapat diterjemahkan ke dalam BSa, secara umum pengungkapan kala bA dapat diterjemahkan secara penuh, full translation, di mana setiap alat pengungkap kala bA, yaitu verba mādī (perfek), verba mudāri’, adverbia temporal, verba bantu kāna, dapat ditemukan padanannya dalam bI yaitu dengan verba, adverbial temporal bI; (b) dari segi tataran linguistik penerjemahan, rank of translation, maka pengungkap kala bA yang berupa verba mādī (perfek) dan verba mudāri’ diterjemahkan secara terikat dengan verba bI, begitu pula untuk adverbia temporal, sedangkan untuk verba bantu kāna diterjemahkan secara bebas dengan ‘dulu’, ‘dahulu’, ‘tadi’, atau tidak diterjemahkan sama sekali apabila sudah ada keterangan waktu lain atau dalam kontek kalimat yang telah jelas waktunya.
    Kedua, secara umum pengungkapan kala dalam bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia walaupun dalam menerjemahkan pengungkapan kala pada kontek-kontek tertentu perlu ditambahkan leksem atau kata keterangan waktu yang sesuai karena dalam bI tidak terdapat pengungkapan kala dalam verbanya. Maka penerjemahan kala bA ke dalam bI hendaknya lebih memperhatikan konteks, siyāq kalimatnya.
    Ketiga, secara rinci, cara penerjemahan pengungkapan kala bA ke dalam bI adalah sebagai berikut: a) kala lampau yang diungkapkan dengan: verba mādī diterjemahkan dengan verba bI padanannya, adverbia temporal bA diterjemahkan dengan adverbia temporal padanannya dalam bI. Adapaun verba bantu kāna dengan verba mudāri’ yang menyertainya diterjemahkan dengan penanda kala lampau bI yaitu ‘dulu’, ‘dahulu’ ; b) Kala Kini yang diungkapkan verba mudāri’ atau verba mādī diterjemahkan dengan verba bI padanannya, begitu pula dengan adverbia temporal; c) Kala mendatang yang diungkapkan dengan: verba mudāri’ diterjemahkan dengan “akan” plus verba bI atau verba bI saja. Prefik “sa-” dan ”Partikel “saufa” diterjemahkan “akan”. Verba mādī, dalam konteks: doa atau pengharapan diterjemahkan dengan “semoga” atau “Mudah-mudahan” dan verba bI padanannya; peristiwa mencontohng diterjemahkan dengan verba bI; kalimat kondisional diterjemahkan dengan “akan” + verba bI, sedangkan relatif “mā” diterjemahkan dengan “akan” plus verba bI , atau verba bI saja.

    DAFTAR PUSTAKA
    Alwasilah, A. Chaedar. 1990. Linguistik: Suatu Pengantar, Bandung: Angkasa

    Badri, Kamal Ibrahim. 1404H, Al-Zaman fi al-Nahwi al-‘araby, Riyadh: Darul Umiyyah.

    Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press

    Fatimah, Djajasudarma. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian, Bandung: P.T. Eresco.

    Ghazala, Hasan. 2006. Translation As Problems and Solutions: A Coursebook for University Students and Trainee Translators. Beirut: Dar Wa Maktabat al-Hilal.

    Hassan, Tammam. 1979. al-Lughah al-Arabiyyah ma’naha wa mabnaha, Cairo: al-Haiah al-Arabiyyah al-‘ammah li-al-Kitab.

    Holes, Clive. 1995. Modern Arabic: Structures, Function and Varieties, New York: Langman Group Limited.

    Lyons, John. 1971. Introduction to Theoretical Linguistics, Cambridge: Cambridge University Press.

    Nur, Tajuddin. 2007. Verba dalam Bahasa Arab dab Bahasa Indonesia: Sebuah Kajian Gramatikal Kontrastif, Yogyakarta: Disertasi UGM.

    No Comments