Supardi A Shawwab

Dosen STAIN Salatiga

  • Sillabi

    No Comments
  • RENCANA PERKULIAHAN “MICRO-TEACHING PBA”

    Pertemuan 1: Penjelasan Micro-Teaching & Learning Contract
    Pertemuan 2: Ketrampilan- Ketrampilan Mengajar Bahasa Arab
    Pertemuan 3: Ketrampilan Variasi Mengajar Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Effektif, Menyenangkan, Menggembirakan dan Berbobot (PAIKEM-GEMBROT) Bahasa Arab
    Pertemuan 4: Praktek Micro-Teaching 1 (4 Mhs)
    Pertemuan 5: Praktek Micro-Teaching 2 (4Mhs)
    Pertemuan 6: Praktek Micro-Teaching 3(4 Mhs)
    Pertemuan 7: Praktek Micro-Teaching 4 (4 Mhs)
    Pertemuan 8: MID SEMESTER
    Pertemuan 9: Praktek Micro-Teaching 5 (4 Mhs)
    Pertemuan 10. Ujian Micro-Teaching 1
    Pertemuan 11: Ujian Micro-Teaching 2
    Pertemuan 12: Ujian Micro-Teaching 3
    Pertemuan 13: Ujian Micro Teaching 4
    Pertemuan 14: Ujian Micro-Teaching 5

    No Comments
  • تخطيط الدراسى
    Course Plan

    المحاضرة Course/ : الترجمة 1 Arabic Translation 1
    أهداف الدراسى : يستطيع الطالب ⁄ ة أن يبين نظرية الترجمة من العربية إلى الأندونيسية
    يستطيع الطالب ⁄ ة أن يترجم النصوص العربية إلى الأندونيسية على منهاج ركيبي
    المحاضر : سوباردى عبد الصواب
    رقم التاريخ المواد الدراسية المناقش⁄ة
    1 المقدمة : الترجمة النظرية
    Introduction: Translation Theory
    2 اختلاف اللغوى العربى و الأندونيسي
    Indonesian and Arabic Linguistic Differences
    3 الأخطاء الشائعة للترجمة العربية إلى الأندونيسية
    General Mistakes of Arabic-Indonesian translation
    4
    ترجمة الإسم Translating Arabic Noun
    5 ترجمة الفعل والزمنTranslating Verb and tense
    6 ترجمة الحرف Translating Particle

    7 ترجمة التركيب الإضافى
    Translating Noun Phrase
    8
    الإمتحان للنصف المرحلة

    9 ترجمة التركيب الوصفى Translating Adjective Phrase

    10 ترجمة الجملة الفعلية: فعل لازم
    Translating Verbal Sentence with intransitive verbs
    11 ترجمة الجملة الفعلية : فعل متعدي
    Translating Verbal Sentence with transitive verbs
    12 ترجمة الجملة الإسمية
    Translating Nominal Sentences
    13 ترجمة التوكيد
    Translating Emphatics
    14 ترجمة نعت الجملة Translating Relative Clause

    15
    16 الإمتحان النهائ
    تخطيط الدراسى
    Course Plan

    المحاضرة Course/ : الترجمة 2Arabic Translation 2
    أهداف الدراسى : يستطيع الطالب ⁄ ة أن يترجم النصوص العربية إلى الأندونيسية
    المحاضر : سوباردى عبد الصواب
    البريد الإليكترونى : supardi_abdillah@hotmail.com
    رقم المحمول : 088 216 292 399

    رقم التاريخ المواد الدراسية المناقش⁄ة
    1 المقدمة
    Introduction المحاضر
    2 ترجمة الجملة الشرطية
    Translating Conditional Sentences
    3 Menerjemahkan Subyek dan Obyek yang berupa Klausa
    4 ترجمة الجملة المعترضة
    Menerjemahkan jumlah Mu’taridhah
    5 ترجمة الفعل المبنى المعلوم
    Menerjemahkan Mabni Ma’lum (Diatesis Aktif) bermakna pasif
    6 ترجمة إسم الموصول
    Menerjemahkan Isim Maushul (Pronomina Relative ) dan Min Bayaniyah
    7-8 الإمتحان للنصف المرحلة
    9 –
    10 ترجمة النصوص العربية
    11 ترجمة النصوص العربية
    12 ترجمة النصوص العربية
    13 ترجمة النصوص العربية
    14 ترجمة النصوص العربية
    15 الإمتحان النهائ
    16

    No Comments
  • PENERJEMAHAN KALA BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA

    Supardi
    Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
    Jl Tentara Pelajar 02 Salatiga
    Email: supardi_abdillah@hotmail.com

    Abstract
    This article examines the translation of Arabic tense expression into Indonesian. This library research employs a descriptive analysis method based on Catford’s theoretical translation framework. This study finds that from the extension and rank of translation perspective, the tense expression in Arabic can be translated in full translation into Indonesian, in which all of the Arabic tense expression can be found its equivalence in Indonesian; but a certain cases the translation of Arabic verbs both mādī (perfect) and mudāri’ (imperfect) have to be added an Indonesian adverbial temporal, the auxiliary verb kāna, which usually combined with mudāri’ verb in Arabic past tense is translated into Indonesian adverb of time: “dulu”, “dahulu”, or “tadi”. The expression of Arabic future tense constitutes mudāri’ verb, prefix “sa_” or particle “saufa” also translated into “akan”. The mādī (perfect) verb which is used in the context of praying is translated into “semoga” following with Indonesian equivalence verb. In short, the Arabic tense expression can be translated into Indonesian.

    Artikel ini bertujuan untuk meneliti penerjemahan pengungkapan kala dalam Bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian pustaka ini menggunakan metode kajian berdasarkan teori terjemah Catford. Artikel ini menemukan bahwa Pertama, dari segi ekstensi, pengungkapan kala bA dapat diterjemahkan secara penuh, di mana setiap alat pengungkap kala bA, yaitu verba mādhī dan mudhāri’, adverbia temporal, verba bantu kāna, dapat ditemukan padanannya dalam bI, sedangkan dari segi tataran linguistik, maka pengungkap kala bA yang berupa verba mādhi dan verba mudhāri’ diterjemahkan secara terikat dengan verba bI, begitu pula untuk adverbia temporal, sedangkan untuk verba bantu kāna diterjemahkan secara bebas dengan ‘dulu’, ‘dahulu’, ‘tadi’, atau tidak diterjemahkan sama sekali berdasarkan kontek kalimatnya., Kedua, secara umum pengungkapan kala dalam bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tetapi pada kontek-kontek tertentu perlu ditambahkan leksem-leksem waktu yang sesuai karena dalam bI tidak terdapat pengungkapan kala dalam verbanya; Ketiga, dalam penerjemahan kala bA ke dalam bI hendaknya lebih memperhatikan konteks (siyāq) dari pada bentuk kata kerjanya, karena setiap bentuk verba bA tertentu, tidak selamanya menunjukkan kala tertentu di dalam konteks kalimat.

    Key Words: penerjemahan, kala, Arab, Indonesia

    A. PENDAHULUAN
    Kala yang dalam bahasa Inggrisnya “tense” berasal dari bahasa Perancis Kuno, dari terjemahan Latin kata Yunani untuk “time” (Yunani: khronos, Latin: tempus). Kategori kala berhubungan dengan waktu sejauh itu diungkapkan dengan kontras gramatikal yang sistematis (Lyons, 1995: 298). Tiga macam kontras seperti itu dikenal oleh ahli-ahli tata bahasa tradisional dalam analisis bahasa Yunani dan Latin adalah: “past” (lampau), “present” (kini), dan “future” (mencontohng) (Lyons, 1995: 298). Dengan kata lain, kala atau tenses adalah kategori gramatika kata kerja yang dinyatakan dengan perbedaan gramatik dengan melihat waktu pengerjaan kegiatan dan saat pengujaran (Alwasilah, 1990: 134).
    Setiap bahasa memiliki sistem yang berbeda dalam mengungkapkan kala. Bahasa Arab mengekspresikan kala dengan verba dan satuan–satuan lingual yang berupa adverbial temporal yang tidak rigid dan sangat tergantung pada konteks. Jadi, bahasa Arab memiliki dua macam kala yaitu kala morfologis, al-zaman al-sharfi dan kala sintaksis, al-zaman al-nahwi (Hassan, 1979: 240-8). Secara morfologis, verba madī menunjukkan makna lampau, demikian pula verba mudāri’ menunjukkan makna sekarang dan mencontohng, tetapi dalam konteks sintaksis makna kala dari dua verba tersebut sangat tergantung pada konteks kalimat, siyaq al-kalam.
    Dipihak lain, dalam bahasa Indonesia kala diungkapkan dengan satuan-satuan lingual atau unsur leksikal yang berupa kata, frase, dan klausa dan tidak ada perubahan pada verbanya. Perbedaan ini akan menimbulkan problem linguistik tersendiri dalam penerjemahan kala bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
    Mengingat persoalan kala dalam bahasa Arab sangat kompleks di mana verba bahasa Arab tidak hanya mengungkapkan kategori gramatika kala tetapi aspek dan modus sekaligus yang saling berkelindan seperti كان قد فعل, dimana menunjukkan kala dan aspek sekaligus, yaitu menunjukkan lampau dekat, tidak dibahas disini, maka pengungkapan kala bahasa Arab dalam artikel ini mengacu pada rumusan Tajuddin Nur (2007) sebagaimana diuraikan dalam pembahasan dan terbatas pada contoh-contoh kalimat sempurna walaupun tergolong pendek dan tidak pada wacana yang lebih luas.
    Dari latar belakang diatas, maka artikel ini akan menjawab pertanyaan pertanyaan berikut: (1) Bagaimanakah penerjemahan kala bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dilihat dari perpektif terjemah Catford? (2) Sejauh mana keterjemahan pengungkapan kala bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? (3) Bagaimanakah cara penerjemahan pengungkapan kala dalam bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia?
    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis melakukan penelitian pustaka, library research. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kajian, yaitu metode yang digunakan dalam penelitian bahasa yang bertitik tolak dari contoh yang dikumpulkan (secara diskriptif) berdasarkan teori (pendekatan) linguistik (Djajasudarma, 1993: 57). Metode kajian memerikan bagaimana contoh dipilah dan diklasifikasikan berdasarkan pendekatan yang dianut.
    Di samping itu, penulis memanfaatkan teori terjemah dari J.C. Catford. Teori ini dipakai karena teori ini memandang penerjemahan dari perspektif linguistik. Penulis hendak melihat keterjemahan atau ketakterjemahan kala bA ke dalam bI dari sudut pandang linguistik ini. Menurut Catford, penerjemahan adalah: “the replacemant of textual material in one langauge by equivalent tektual material in another langauge, (Catford, 1965: 20). Jadi penerjemahan adalah penggantian suatu materi tektual dalam suatu bahasa dengan materi tekstual yang padan dalam bahasa lain.
    Materi tekstual atau teks pada definisi tersebut tidak harus diartikan teks tertulis tetapi mencakup pengertian yang luas yaitu satuan bahasa yang paling lengkap dan dapat juga bersifat sangat abstrak, yang dapat berwujud bahasa lisan maupun bahasa tulis berupa kata, serangkaian kata-kata, frase, klausa, kalimat, atau paragraf yang memuat dan memberikan pesan yang lengkap. Teks secara singkat dapat dimaknai sebagai bahan atau naskah yang akan diterjemahkan; sedangkan kata equivalent ‘padanan’ juga harus diartikan lebih luas yaitu tidak saja menyangkut padanan formal bahasa yang berupa padanan kata per kata, frase per frase, atau kalimat per kalimat, melainkan padanan makna atau pesan.
    Catford memerikan terjemah dari sudut linguistik umum dan kemudian membaginya dalam tiga kategori umum, sebagai berikut: Pertama, terjemah yang didasarkan pada rentang ‘extent’ keluasan bahasa sumber yang akan diterjemahkan. Maksudnya, seberapa jauh bahasa sumber itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran, atau bagian-bagian tertentu saja yang dapat dipindahkan ke dalam bahasa sasaran. Dari segi keluasannya ini, penerjemahan dibagi menjadi dua yaitu seluruh atau sebagian ‘full’ dan ‘partial’.
    a) Terjemah penuh
    Terjemah penuh atau ‘full translation’ berarti setiap bagian dari BSu digantikan oleh materi teks pada BSa, yakni setiap bagian dari naskah BSu dialihkan dengan padanannya di dalam BSa. Misalnya:
    (1) فى يوم السفر ؛ حمل الته الموسيقية “الأروج ” إلى سيارة صغيرة (ARA:12)
    Fi Yaumi al safar Hamala
    (p/m/t) Alatihi almusiqiya Al-Arwaj Ila Sayarotin
    Saghiratin
    Pada Hari itu- berpergian Membawa
    (p/m/t) Alat-alat-musik nya Al-Arawaj Ke mobil kecil
    Saat hari keberangkatan, Ia (Iryan) membawa seperangkat alat musik ke dalam mobil kecil

    Setiap bagian dari kalimat di atas dapat diterjemahkan secara penuh, dimana setiap bagian dari kalimat tersebut ditemukan padanannya dalam BSu yaitu bI.
    b) Terjemah Parsial
    Terjemah parsial bermakna bahwa ada bagian atau beberapa bagian dari BSu yang tidak diterjemahkan ke dalam BSa. (Catford, 1965: 21). Maksudnya ada bagian tertentu yang dibiarkan tidak diterjemahkan atau ditulis sebagaimana bahasa aslinya dan tidak diterjemahkan. Sejauh telaah penulis pengungkapan kala bahasa Arab dapat diterjemahkan secara penuh.
    Kedua, terjemahan yang didasarkan pada tingkatan ‘level’. Berdasarkan pada tingkatan ini terjamah dikelompokkan menjadi menyeluruh/tuntas ‘total’ dan terbatas ‘restricted’. Dalam penerjemahan tuntas, penerjemahan dilakukan dengan pengalihan tata bahasa dan kosakata BSu dengan padanan tata bahasa dan kosa kata BSa yang disertai dengan pengalihan fonologi/grafologi BSu dengan fonologi/grafologi BSa yang bukan padanannya.
    Terjemahan terbatas ‘restricted translation’ dimaksudkan untuk pengalihan materi tektual BSu dengan materi tekstual padanannya pada satu tataran yaitu tataran fonologi, grafologi, tata bahasa, atau kosa kata. Misalnya, kata yusallūna pada kalimat يصلون المسلمون diterjemahkan dengan ‘sholat’ saja tidak diterjemahkan ‘mereka sholat’ mengingat dalam bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan verba bentuk jamak. Jadi diterjemahkan pada tataran kosa kata saja.
    Ketiga, terjemah yang didasarkan pada tataran linguistiknya. Tataran merujuk pada hirarkhi gramatikal atau fonologi di mana kesejajaran dalam penerjemahan dilakukan. Catford membagi tataran terjemah menjadi dua yaitu terikat dan bebas.
    a) Terjemah terikat
    Terjemah terikat ‘bound translation’ adalah jenis terjemah yang terbatas secara lebih khusus kepada terjemah pada tataran kata dan morfem saja, atau frase dengan frase, atau kalimat dengan kalimat, yaitu penggantian kosa-kata dan morfem BSu dengan padanannya kosa kata dan morfem BSa, frase BSu dengan frase BSa, atau kalimat BSu dengan kalimat BSa. Penerjemahan terikat ini biasanya tidak terjadi penerjemahan pada tataran yang lebih tinggi dari pada tataran kata dan morfem yaitu struktur dan gramatika. Istilah terjemahan kata per kata dan penerjemahan literal termasuk dalam jenis ini. Misalnya, (2) وعندى ثلاثة كتب , diterjemahkan: ‘dan disisiku tiga buku-buku’. Penerjemahan tersebut terikat pada padanan kosa kata dan morfem saja. Jadi lima kosa kata dalam BSu digantikan oleh lima kata pada BSa tanpa mengubah posisi sedikitpun.
    b) Terjemah bebas
    Terjemah bebas ‘free translation’ adalah jenis terjemah tuntas yang tidak dibatasi oleh keterikatan pada penerjemahan suatu tataran tertentu. Jenis terjemahan ini selalu lebih tinggi dari tataran kata dan morfem, bahkan mungkin lebih luas dari tatatan kalimat. Dengan kata lain, terjemahan tuntas yang didalamnya kesejajaran unit-unit gramatika diganti secara bebas (Catford, 1965: 24-25). Misalnya:
    (3) فى أن المال أصل عظيم من أصول الفساد لحياة الناس أجمعين
    diterjemahkan: “Harta sumber malapetaka” .
    Apabila diperhatikan terjemah tersebut, tampak bahwa penerjemah tidak terikat oleh struktur gramatika atau struktur makna BSu, tetapi memunculkan perspektif tersendiri, tanpa kehilangan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis BSu. Jika penerjemah penerjemah masih terikat pada struktur dan gramatika BSu, maka terjemahan menjadi ‘bahwa harta merupakan sumber terbesar kehancuran bagi kehidupan umat manusia’.
    Dari tiga macam kategori terjemah tersebut, dapat disimpulkan kata kunci dari teori Catford adalah equivalent ‘padan’. Maka makna terjemah menurut Catford dengan sendirinya adalah pesan dalam wacana alihan akan sebanding dengan pesan pada wacana asli. Sebaliknya jika wacana alihan dan wacana asli tidak sepadan maka wacana alihan tidak dianggap sebagai suatu terjemahan (Catford, 1965: 20-4). Berikut ini analisis penerjemahan pengungkapan kala dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
    B. PENERJEMAHAN KALA BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA
    1. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dari bA ke bI
    Kala lampau dalam bA diungkapkan dengan verba mādī (perfek), verba mādī plus adverbial temporal, verba bantu kāna dikombinasikan verba mudhāri’, dan verba bantu kāna dalam kalimat ekuasional, maka dalam bagian ini akan dianalisis bagaimana penerjemahan dari masing-masing pengungkapan tersebut ke dalam bI.
    a. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Mādī (Perfect)
    (4) فى يوم السفر ؛ حمل الته الموسيقية “الأروج ” إلى سيارة صغيرة (ARA:12 (
    Fi yaumi al-safar hamala (p/m/t) alatihi al musiqiyyah ‘al arwaj’ ila sayāratin shaghīratin.
    Pada hari itu-keberangkatan, membawa (p/m/t)/dia = Iryan alat-alat –nya- musik ‘al arwaj’ ke dalam mobil kecil.
    Saat hari keberangkatan, Iryan membawa seperangkat alat musik ke dalam mobil kecil.

    Pada contoh no (4), tampak bahwa kala lampau dalam bA diungkapkan dengan verba mādī: ‘hamala’, yang diterjemahkan ‘membawa’. Setiap kalimat dari contoh tersebut juga diterjemahkan tanpa memberikan tambahan kata keterangan waktu, karena konteks kalimat kalimat tersebut dianggap telah dipahami pembaca bahwa kalimat tersebut telah terjadi pada masa lampau, sehingga tidak diperlukan penambahan leksem-leksem waktu dalam penerjemahannya karena waktu sudah dapat dipahami dari konteks kalimat tersebut.
    Peristiwa ‘membawa’, tersebut merupakan cerita yang ditulis oleh penulis novel yang merupakan peristiwa di masa lampau, sehingga penerjemahan verba-verba mādī tersebut tanpa menambahkan leksem-leksem waktu dalam bI, tanpa memberikan kata keterangan waktu lampau, karena peristiwa tersebut menggambarkan peristiwa pada masa turunnya al-Qur’an yang telah terjadi pada masa lampau.
    Sering ditemukan sebagian orang menerjemahkan setiap verba mādī dengan dengan menambahkan kata ‘telah’ atau ‘sudah’ sebelum verba bI. Penerjemahan semacam ini tidak selamanya tepat karena ‘sudah’ atau ‘telah’ bukan pemarkah kala dalam bI, tetapi pemarkah aspektual bI.
    Dari contoh tersebut tampak bahwa penerjemahan pengungkapan kala lampau bA dengan verba mādī diterjemahkan dengan padanan verba tersebut dalam bI tanpa menambahkan leksem-leksem waktu karena konteks peristiwa telah diasumsikan berada dalam waktu lampau dan telah dipahami oleh pembaca. Dalam perpektif teori penerjemahan Catford, dari segi ektensinya, verba mādī dapat diterjemahkan secara penuh ke dalam verba bI padanannya. Hal ini berarti bahwa verba mādī bA dapat ditemukan padanannya dalam bI. Dari sisi tingkatan linguistiknya, terjemahan ekspresi lampau tersebut juga dapat diterjemahkan secara tuntas, dan dari segi tataran linguistik, verba mādī diterjemahkan secara terikat dengan verba bI padanannya.
    b. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Mādī disertai adverbia temporal

    (5) وقد بدأ أمس رئيس الجمهورية اميل لحود زيارة لبولونيات (AKAN, 2004: 1)
    Wa qod bada’a (p/m/t) ‘amsi raisu al jumhūriyati Emile Luhd ziyārata li Polonia
    Dan telah mulai kemarin Presiden Emile Luhd kunjungan untuk Polonia
    Presiden Emile Luhud telah memulai kunjungan ke Polinia kemarin.
    Pada contoh (5) di atas, kala lampau diungkapkan dengan verba mādī bada’a (memulai) plus adverbia temporal ‘amsi (kemarin); Contoh pengungkapan kala lampau dengan verba mādī plus adverbia temporal tersebut diterjemahkan ke dalam bI dengan padanan masing-masing verba dan adverbia temporal dalam bI. Dalam bA keberadaan verba mādī telah menunjukkan kala lampau dan adverbia temporalnya menunjukkan spesifikasi kala lampaunya. Dalam penerjemahanya tampak bahwa verba mādī diterjemahkan dengan padanannya dalam bI dan terjemahan kata keterangan waktu itulah yang sebenarnya menjadi penanda kala dalam bI, karena dalam bI penanda kala adalah leksem keterangan waktu.
    c. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau dengan Verba Bantu Kāna disertai Verba Mudāri’

    (6) كان يحب الشعر و الشعراء AGOAL,VOL. 2, 2002:21
    Kāna yuhibbu (i /m/ t) si’ra wa syu’arā΄
    Dulu suka-dia (I /m /t) syair dan para penyair.
    (Dulu) dia suka syair dan penyair.

    (7) كان يركب فى كل يوم عدة مرار ( (AGOAL,VOL. 2, 2002:21
    Kāna yarkabu ( i/m/t) fi kulli yaumin ‘idcontoh mirarin
    Dulu naik-dia ( i/m/t) tiap hari beberapa kali
    Dulu dia (biasa) naik sepeda setiap hari beberapa kali

    Dalam contoh tersebut verba bantu kāna yang secara leksikal berarti “ada, terdapat, terjadi” (Munawir, 1994: 1241) diterjemahkan ‘dulu/dahulu’ ketika didepannya terdapat verba mudhāri’. Verba kāna ketika digabungkan dengan verba mudāri’ maka menjadi verba bantu dan menjadi penanda kala lampu. Verba mudāri’ dalam contoh-contoh diatas diterjemahkan kata perkata; ‘yuhibbu’- ‘senang’ dan ‘yarkabu’ – ‘naik’. Jadi penanda kala lampau verba bantu kāna diterjemahkan “dulu/dahulu”. Tetapi penerjemahan kāna dengan “dulu” atau “dahulu” tidak mutlak dinyatakan dalam kalimat bila kontek kalimat telah dipahami misalnya dalam kontek cerita yang waktunya telah dijelaskan pada paragraph-paragraf sebelumnya. Di samping itu kāna sendiri secara aspektual juga menyatakan kebiasaan dimasa lampau, hal ini dapat dilihat dari terjemahan dalam Bahasa Inggris yang diterjemahkan dengan “used to” yang merupakan pengungkapan kebiasaan masa lampau (Azar, 1993: 101, 104). Maka kāna di samping diterjemahkan “dulu” atau “dahulu”, dapat juga ditambahkan kata “biasa”, sehingga terjemah lengkapnya menjadi “dulu/dahulu biasa”.
    Apabila kata kerja bantu kāna dihilangkan maka kalimat-kalimat tersebut akan mengalami perubahan kala yaitu menjadi kala kini atau mungkin kala mencontohng. Perhatikanlah tabel perbandingan penerjemahan berkut ini:
    Dengan Kāna Tanpa Kāna
    (8) كان يحب الشعر و الشعراء
    (Dulu) dia suka syair dan penyair يحب الشعر و الشعراء
    Dia suka syair dan penyair
    (9) كان يركب فى كل يوم عدة مرار
    (Dulu) dia (biasa) naik sepeda setiap hari beberapa kali يركب فى كل يوم عدة مرار
    Dia naik sepeda setiap hari beberapa kali

    Tabel tersebut menunjukkan bahwa apabila verba mudāri’ didahului oleh kata kerja bantu kāna maka menjadi kala lampau dan penerjemahannya di tambahkan kata ‘dulu’ atau ‘dahulu’ untuk menunjukkan kala lampau tersebut. Sebaliknya jika kāna dihilangkan maka verba mudāri’ tersebut menunjukkan kala kini dan penerjemahnnya tidak perlu dengan menambahkan ‘dulu’ atau ‘dahulu’.
    d. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampu dengan Verba Bantu Kāna dalam Kalimat Ekuasional

    (10) كنت مدرس
    Kuntu ( kkb/p) mudarrisun
    (kkb/p) Dulu –Saya guru
    (Dulu) Saya seorang guru

    Contoh (10) diatas menunjukkan bahwa verba bantu kāna dalam kalimat ekuasional menunjukkan kala lampau dan diterjemahkan dengan “dulu/ dahulu” atau “tadi”. Pada contoh (10) verba madhi “kuntu” yang secara harfiah diterjemahkan “saya ada” diterjemahkan “dulu saya” atau dengan diterjemahkan “Saya” bila kontek kalimat sudah dipahami. Maka “kuntu mudarrisun” diterjemahkan “(Dulu) Saya seorang guru”.
    e. Penerjemahan Pengungkapan Kala Lampau BA dengan Lam dan Verba Mudāri’

    (11) لم يحدث هذا
    Lam yahduts (i/m/t) hadza
    Belum terjadi (i/m/t) ini.
    Ini belum terjadi

    Contoh pengungkapan kala dengan lam dan verba mudāri’ diatas yaitu ‘Lam yahduts (i/m/t) hadza’ “ hal ini belum/tidak terjadi”. Pakar Bahasa Arab menganggap bahwa peristiwa ini masuk dalam kala lampau. Mereka memaknai bahwa suatu peristiwa tidak terjadi pada masa yang lampau. Mereka mengatakan bahwa jika verba mudāri’ didahului oleh lam atau lamma, huruf-huruf atau partikel Jazm / jussive maka verba mudāri’ tersebut kalanya menjadi lampau (Hasan, 2004: 61, Idris, 2008: 173).
    Dari contoh tersebut tampak bahwa verba mudāri’ masing-masing diterjemahkan dengan verba padanannya dalam bI, yaitu yahdu۬s: terjadi, sedangkan partikel negasi “lam” diterjemahkan tidak. Jadi penerjemahan ini, bila ditinjau dari perspektif Catford adalah terjemah penuh dari segi ekstensinya, parsial dari segi tingkatan linguistiknya dan terjemah terikat dari segi tatarannya.
    2. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini BA ke dalam BI
    a. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mudāri’
    (12) أدرس اللغة العربية لمدة سنة فى جامعة القاهرة (BPBA: 2006: )
    Adrusu (i/mf/t) al lughah al ‘arabiyah li muddati sanatin fi jāmi’ati al- qāhirah.
    Belajar (i/mf/t) –saya Bahasa Arab selama satu tahun di universitas Kairo
    Saya belajar bahasa arab selama setahun di Universitas Kairo

    Contoh (12) menunjukkan pengungkapan kala kini dalam bA dengan verba mudāri’ dan terjemahnya. Pada contoh (12), “Adrusu al lughah al ‘arabiyah li muddati sanatin fi jāmi’ati al qāhirah” yang diterjemahkan dengan “Saya belajar bahasa arab selama setahun di Universitas Kairo” tampak bahwa verba mudāri’ “adrusu” diterjemahkan “belajar” tanpa ditambahkan keterangan waktu, karena kalimat tersebut berupa pernyataan yang kontek waktunya adalah pada saat berbicara atau saat kalimat tersebut diucapkan “the time of speaking”. Dari contoh tersebut, verba mudāri’ diterjemahkan secara literal dengan padanannya pada BSa, yaitu bI.
    Contoh tersebut mengindikasikan bahwa pengungkapan kala kini dengan verba mudāri’ diterjemahkan dengan kata kerja padanannya dalam bI tanpa menambahkan kata keterangan waktu kini karena kontek kalimatnya pada saat bicara atau kala kini. Dalam perpektif Catford, dari segi kestensinya, pengungkapan kala kini dalam bA dengan verba mudāri’ dapat diterjemahkan secara penuh dengan verba padanannya dalam bI, begitu pula dari segi tingkatan linguistiknya diterjemahkan secara tuntas, dan dari tataran linguistiknya diterjemahkan secara terikat dengan verba padannannya dan bukan jenis kata lain.
    b. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mudāri’ Plus Adverbia Temporal

    (13) الأمير عبد العزيز يرأس اجتماع لجنة الحج المركزية اليوم
    /Al-‘amiru ‘abdu ‘al-‘zīzi yar’asu (i/m/t) ‘ijtimā’a lajnati al-hajji ‘almarkaziyyati ‘al-yauma. (SKAR: 2, dalam nur, 2007: 123).
    Itu-pangeran Abdul Aziz memimpin (i/m/t) rapat panitia itu-haji itu-pusat hari ini
    Pangeran abdul Aziz memimpin rapat panitia haji pusat hari ini.

    Contoh (13), “Al-‘amiru ‘abdu ‘al-‘zīzi yar’asu (i/m/t) ‘ijtimā’a lajnati al-hajji ‘almarkaziyyati ‘al-yauma” , ‘Pangeran abdul Aziz memimpin rapat panitia haji pusat hari ini’ (SKAR: 2, dalam Nur, 2007: 123), menunjukkan bahwa verba mudāri’ dan adverbia temporal “al-yauma” masing masing diterjemahkan “memimpin” dan “hari ini” sebagai padanan masing-masing dalam BSa, hanya saja penerjemahan keterangan waktu dalam bI menunjukkan kala kini dalam bI, sementara dalam bA, verba mudāri’ telah menunjukkan kala kininya.
    c. Penerjemahan Pengungkapan Kala Kini dengan Verba Mādī
    Salah satu pengungkap kala kini dalam bA adalah verba mādī. Verba ini secara umum mengungkapkan kala lampau, tetapi dalam konteks- konteks tertentu, seperti ungkapan pada saat berbicara, at the time of speaking, verba ini menunjukkan kala kini. Hal ini dapat disimak dalam contoh berikut ini:
    (14) فهمت
    Fahimtu (p/mf/t) (MSA 1: 342, dalam nur, 2007: 124).
    Mengerti-saya (p/mf/t)
    Saya mengerti

    Contoh (14), “Fahimtu”, terjemahnya “Saya mengerti” menunjukkan bahwa verba mādī tersebut diterjemahkan secara literal, tanpa ditambahkan kata keterangan waktu kini, walaupun pernyataan tersebut menunjukkan waktu kini, karena konteknya adalah pada saat bicara. Dari perspektif Catford, penerjemahan tersebut dari sisi ekstensinya menyeluruh, tingkatannya terbatas pada kosa kata, dan dari tatarannya terikat kosa katanya hanya susunan kalimat yang berubah.
    3. Penerjemahan Pengungkapan Kala Mendatang dalam BA ke dalam BI
    Pada dasarnya kala mencontohng dalam bA diungkapkan dengan verba mudāri’, prefiks ‘sa-…’ dan partikel ‘saufa’ plus verba mudāri’, verba mudāri’ plus adverbia temporal, dan verba mādī dalam kontek-konteks tertentu. Berikut ini diuraikan penerjemahan pengungkapan kala mencontohng tersebut secara rinci:
    a. Penerjemahan Pengungkapan kala Mencontohng dengan Verba Mudāri’
    (15) إن الله يدخل الذين أمنوا و عملوا الصالحات جنات … (الأية)
    /Inna al-Laha yudkhilu (i/m/t) alladzina amanu wa ‘amilu al shālihati jannātin…(QS22: 14).
    Sesungguhnya Allah dia-memasukkan (i/m/t) itu-orang-orang yang beriman (p/m/pl) dan mengerjakan (p/m/pl) itu amal saleh surga-surga…
    Sesungguhnya Allah (akan) memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga-surga.

    Verba mudāri’ “yudkhilu” pada contoh no (15), Inna al-Laha yudkhilu (i/m/t) alladzina amanu wa ‘amilu al shālihati jannātin…(QS22: 14)” diterjemahkan “(akan) memasukkan”, dan ditambahkan kata “akan” secara opsional. Kata ‘akan’ merupakan partikel tambahan untuk menyatakan kala verba mencontohng dalam bI. Dari dua contoh contoh menunjukkan bahwa kedua peristiwa dalam kata kerja tersebut akan terjadi pada waktu yang akan contohng, maka dalam penerjemahannya ditambahkan kata ‘akan’ .Dengan demikian, maka penerjemahan penerjemahan verba mudāri’ dalam kontek peristiwa yang terjadi pada masa yang akan contohng dapat ditambahkan kata “akan”.
    Jika verba mudāri’ yang mengungkakan kala mencontohng ini diterjemahkan dengan verba padanannya saja, maka akan menjadi tidak jelas perbedaan antara verba mudāri’ yang mengungkapkan kala kini dan kala mencontohng. Maka dengan pertikel “akan” tersebut dalam bI dapat dipahami bahwa peristiwa tersebut akan terjadi pada waktu mencontohng. Jadi verba mudāri’ yang mengungkapkan peristiwa mencontohng diterjemahkan dengan “akan” dan verba bI padanannya. Dari perspektif Catford, dari segi ekstensi, tingkatan dan tataran linguistinya, maka terjemahan tersebut bersifat menyeluruh, tuntas, dan terikat.
    b. Pengungkapan Kala Mencontohng dengan verba Mudāri’ plus Adverbia temporal

    (16) تعقد الندوة فى يومى الجمعة و السبت الأتى
    /Tu’qadu (i/f/t) ‘al-nadwatu fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī./
    Diadakan itu-seminar pada hari itu-jumat dan itu-sabtu itu-akan dating
    Seminar itu diadakan pada hari Jumat dan hari Sabtu yang akan dating

    Contoh (21), “Tu’qadu (i/f/t) ‘al-nadwatu fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī”, “Seminar itu diadakan pada hari Jumat dan hari Sabtu yang akan contohng”, menunjukkan bahwa pengungkapan kala mencontohng dengan verba mudāri’ ‘tu’qadu’ dan adverbia temporal “fi yawmai ‘aljum’ati wa ‘al-sabti ‘al-ātī”, diterjemahkan dengan padanannya masing-masing dalam bI yaitu “diadakan” dan “pada hari Jum’at dan Sabtu yang akan contohng”.
    Contoh diatas mengindikasikan bahwa pengungkapan kala mencontohng dalam bA diterjemahkan ke dalam bI dengan padanan masing-masing baik itu verba maupun adverbia temporalnya, tetapi secara gramatika verba dalam bA menunjukkan kala mencontohng sekaligus, sedangkan dalam terjemah bI verba tidak menunjukkan kala, tetapi terjemah kata keterangan waktu yang berfungsi menunjukkan kala.
    c. Penerjamahan Pengungkapan kala Mencontohng dengan Verba Mudāri’ yang didahului oleh Prefiks ‘sa-’

    (17) سأقيم هناك فترة قد تطول[ARA: 6].
    /Sauqimu (i/m/t) hunāka fatratan qod tathūlu
    Akan saya-mukim (i/m/t) disana satu saat lama
    Aku akan bermukim disana sedikit lama atau bahkan lebih lama [SSC: 6].

    Verba ‘sa’uqimu’ ‘aku akan tinggal’ pada contoh (17) terdiri dari prefiks sa-yang diterjemahkan ‘akan’ sebagai pemarkah kala mencontohng dan verba mudāri’ ‘uqimu ‘aku tinggal’ . Prefiks ‘sa-’ ditas menunjukkan peristiwa yang akan terjadi di masa mencontohng yang waktunya relatif dekat menurut si pembicara dan diterjemahkan ‘aku akan tinggal’ dalam bahasa Indonesia. Secara teoritk, terjemahan kalimat tersebut bersifat menyeluruh, tuntas, dan terikat.
    d. Penerjamahan Pengungkapan Kala Mencontohng dengan Partikel Saufa dan Verba Mudāri’ ke dalam Bahasa Indonesia

    (18)
    سوف أرحل يا صوفيا [ARA: 6].
    Saufa arhalu (i/m/t) ya Sofia

    Akan saya pergi (i/m/t) wahai sofia

    Aku akan pergi, Sofia. [SSC: 10].

    Pada contoh (18), partikel ‘saufa’ ‘akan’ dan verba mudāri’ ‘arhalu ‘saya pergi’ ; maka ‘saufa ‘arhalu’ diterjemahkan ‘aku akan pergi’ mengungkapkan peristiwa pergi yang terjadi pada waktu yang akan contohng. Dari contoh diatas tampak bahwa penerjamahan pertikel ‘saufa’ ke dalam bI adalah ‘akan’, sedangkan verba mudāri’ sesudahnya yaitu arhalu ‘aku pergi’, diterjemahkan dengan padanannya masing- masing dalam bI secara literal.
    Di sisi lain, bentuk negasi dari prefiks sa dan partikel saufa yang menyatakan peristiwa atau perbuatan yang tidak akan terjadi pada masa yang akan contohng adalah dengan partikel ‘Lan’ diterjemahkan ‘tidak akan’ yang dikombinasikan dengan verba mudāri’, misalnya:

    (19) فلن أبرح الأرض حتى يأذن لى أبى
    Falan abraha (i/m/t) ardha hatta ya’dzana (i/m/t) lī abī (Q.S. 12: 80).
    Maka aku tidak akan meninggalkan (i/m/t) bumi hingga mengizinkan (i/m/t) aku ayahku
    Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri (Mesir) , sampai ayahku mengizinkan kapada ku (untuk kembali).(QS. Yusuf : 80).

    Pada contoh di atas, partikel negasi lan diterjemahkan ‘tidak akan’ dan ‘’abraha’ ‘aku meninggalkan’, jadi penerjemahan selengkapnya adalah “aku tidak akan meninggalkan negeri sampai ayahku mengizinkannku’. Jadi bentuk negasi dari prefiks sa maupun partikel saufa diantaranya dapat dinegasikan dengan “lan” yang dikombinasikan dengan verba mudāri’.
    e. Pengungkapan Kala Mencontohng dengan Menggunakan Verba Mādī
    Penggunaan verba mādhī untuk mengungkapkan kala mencontohng adalah dalam konteks-konteks tertentu yaitu:
    a. Menyatakan doa atau pengharapan
    Berikut ini dua contoh penerjemahan pengungkapan kala mencontohng dengan verba mādī dalam kontek doa atau pengharapan:
    (20) أضحك الله سنك
    ‘Adhhaka Allahu sinaka (DDS, 2004: 47)
    Membahagiakan Allah usia mu
    Semoga Allah membahagiakan usiamu

    (21) بارك الله فيك يا مصطفى!
    /Baraka (p/m/t) ‘al-Lāhu fīka yā Musthofā!
    memberkahi (p/m/t) Allah pada-mu hai Mustofa
    Semoga Allah memberkahimu hai Mustofa! (Nur, 2007:134).

    Contoh diatas yaitu (20), “’Adhhaka Allahu sinaka”, terjemahnya “Semoga Allah membahagiakan usiamu” menunjukkan bahwa verba mādī “’adhha” diterjemahkan dengan “membehagiakan” sebagai pandannya dalam bI, dan ditambahkan kata semoga karena konteknya adalah doa atau harapan dan tidak ada penambahan leksem waktu tertentu. Tetapi sudah dipahami konteknya yaitu harapan dan doa dimasa mencontohng.
    Contoh kedua (21), “Baraka (p/m/t) ‘al-Lāhu fīka yā Musthofā!”, “Semoga Allah memberkahimu hai Mustofa!”, verba mādī “Baraka” diterjemahkan dengan padanan verba dalam BSa yaitu ‘merahmati’ dan mendapatkan tambahan kata ‘semoga’ karena konteknya adalah doa atau pengharapan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa verba mādī dalam konteks doa diterjemahkan dengan padanan verba dalam bI dengan dikombinasikan dengan kata “semoga” di depannya.
    Dalam konteks doa, jika kata kerja “Baraka” tersebut diterjemahkan secara literal dengan verba padanannya saja “memberkahi” saja, maka akan menjadi kalimat berita saja. Misalnya contoh tersebut diterjemahkan “Allah memberkahimu Mustofa”. Dalam kalimat tersebut makna doa tidak begitu tampak karena dalam bI doa atau harapan biasa diungkapkan dengan partikel “semoga”. Jadi dalam kontek doa penerjemahan verba mādī menjadi “semoga” dan verba padanannya.
    b. Menggambarkan peristiwa yang akan terjadi dimasa mencontohng
    Berikut ini disajikan contoh-contoh yang berupa verba mādī yang menggambarkan peristiwa di masa yang akan contohng dan terjemahnya:
    (22) وعرضنا جهنم يومئذ للكافرين عرضا
    /Wa ’aradhnā (p) Jahannama yauma’idzin li–l-kāfirīna ‘ardhan./
    Dan menampakkan-Kami (p) Jahannam hari itu orang-orang kafir jelas
    ‘Dan akan Kami tampakkan (neraka) Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas’.(Q.S., 18: 100).

    Tampak dalam contoh (22), “Wa’ aradhnā (p) Jahannama yauma’idzin li–l-kāfirīna ‘aradhan”, “Dan akan Kami tampakkan (neraka) Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas’.(Q.S., 18: 100)”, bahwa penerjemahan verba mādī aradhna adalah dengan padanannya dalam bI dan ditambahkan kata “akan”, karena menunjukkan peristiwa yang akan contohng. Dari contoh ini tampak bahwa verba mādī yang digunakan untuk mengungkapkan peristiwa yang akan contohng diterjemahkan dengan verba padannannya dalam bI plus kata akan di depannya.
    c. Mengungkapkan kalimat kondisional
    Berikut ini dua sampel contoh yang mengungkapkan kala mencontohng bA dengan verba mādī dalam kontek kalimat kondisional atau pengandaian.
    (23) وإذامس الناس ضر دعوا ربهم
    /Wa ‘idza massa (p/f/t) ‘al-nāsu dhurrun, da’aū (p/m/pl) rabbahum…./(Q.S.30:33).
    Dan apabila menyentuh (p/m/t) manusia bahaya, menyeru-mereka (p/m/pl) tuhan-mereka.
    “Dan apabila menusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya…” (Q.S. 30: 33).

    (24) لو سمح لى وقت لزرت أوروبا
    /Lau samaha (p/m/t) liya ‘al-waqtu lazurtu (p) ‘Awrabbā./
    Jikalau mengizinkan (p/m/t) untuk-ku waktu niscaya mengunjungi/ melewati saya Eropa
    ‘Jikalau waktu mengizinkan , niscaya saya akan mengunjungi Eropa’

    Contoh (23), Wa ‘idza massa (p/f/t) ‘al-nāsu dhurrun da’aū (p/m/pl) rabbahum…., “Dan apabila menusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya…” (Q.S. 30: 33), menunjukkan bahwa dalam kalimat kondisional kala mencontohng contohng bA diungkapkan dengan verba mādī “da’aū”, yang diterjemahkan dengan “menyeru” dan tidak ditambahkan leksem waktu mencontohng dalam terjemah bI.
    Contoh (24), ‘Lau samaha (p/m/t) liya ‘al-waqtu lazurtu (p) ‘Awrabbā’, ‘Jikalau waktu mengizinkan , niscaya saya akan mengunjungi Eropa’, mengungkapkan bahwa dalam kalimat syarat /kondisional, verba mādī “zurtu” diterjemahkan “akan mengunjungi” yaitu dengan padanan kata kerja dalam bI dan kata “akan” didepannya sebagai penanda kala mencontohng. Dua contoh ini membuktikan bahwa dalam kalimat kondisional verba mādī menunjukkan kala mencontohng diterjemahkan dengan padanan kata kerja dalam bI dan dapat pula ditambahkan kata “akan” sebelumnya untuk memperjelas kalanya.
    Lebih lanjut, dari perspektif teori terjemah Catford, dapat dikatakan bahwa penerjemahan kala mencontohng yang diungkapkan dengan verba mādī dalam kontek kalimat pengandian adalah penerjemahan penuh dimana verba madhi ditemuka padanannya dalam BSa yaitu verba bi dan akan, sedangkan dari segi tataran linguistiknya ditemukan bahwa verba mādī bA tetap diterjemahkan dengan verba dan ditambahkan partikel akan, terjemahan ini disebut terjemahan terikat.
    d. Menyatakan peristiwa mencontohng setelah adverbia relatif ما/ mā/
    Berikut ini adalah contoh penerjemahan pengungkapan mencontohng dengan verba mādī dalam kontek peristiwa mencontohng setelah adverbial relatif /mā/:
    (25) ربما عدت إليك بعد قليل
    /Rubbamā ‘udtu (p) ilayka ba’da qolīlin. (MAP: 62, dalam Nur, 2007:136).
    Barangkali kembali-saya (p) kepadamu-mu setelah sebentar
    ‘Barangkali saya akan kembali kepadamu sebentar lagi’

    (26) سأشكرلك فضلك ماحييت
    /Sa ‘asykuru (i) laka fadhlaka māhayītu (p)
    Akan –saya-berterima kasih kepada-mu kebaikan-mu hidup-saya (p)
    ‘Saya akan berterima kasih kepadamu atas kebaikanmu selama hidupku.’

    Contoh (25), “Rubbamā ‘udtu (p) ilayka ba’da qolīlin’, ‘Barangkali saya akan kembali kepadamu sebentar lagi’” menunjukkan bahwa dalam kalimat yang mengandung relatif dengan ‘mā’, verba mādī ‘udtu diterjemahkan dengan verba padanannya dalam bI disertai kata “akan” sebagai penanda kala mencontohng. Hal ini terjadi juga dalam contoh (31)
    Contoh (26), “Sa’asykuru (i) laka fadhlaka māhayītu, Saya akan berterima kasih kepadamu atas kebaikanmu selama hidupku’, menunjukkan bahwa verba mādī “hayitu” diterjemahkan “selama hidupku” yang menyatakan kala mencontohng karena ungkapan “selama hidupku” berarti dari saat diucapkan hingga waktu mencontohng, dan diperjelas juga dengan ungkapan sa’asykuru, saya akan berterima kasih. Dua contoh ini membuktikan bahwa verba mādī setelah relatif ma diterjemahkan dengan “akan + kata kerja” atau kata kerja saja.
    Dari dua contoh tersebut tampak bahwa penerjemahan verba mādī diterjemahkan secara penuh dimana verba tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bi, sedangkan dari tataran linguistinya juga ditemukan bahwa verba ba tetap digantikan oleh verba bi padanannya. Dengan demikian dari perspektif teori terjemah Catford, dapat dikatakan bahwa terjemahan tersebut penuh dari segi keluasannya dan terikat dari segi tataran linguistiknya.
    C. KESIMPULAN
    Dari telaah tentang penerjemahan pengungkapan kala dari bA ke bI sebagaimana diuraikan dalam bab tiga maka dapat diambil kesimpulan-kesimpulan berikut:
    Pertama, (a) dari segi ekstensi atau sejauhmana keluasan BSu dapat diterjemahkan ke dalam BSa, secara umum pengungkapan kala bA dapat diterjemahkan secara penuh, full translation, di mana setiap alat pengungkap kala bA, yaitu verba mādī (perfek), verba mudāri’, adverbia temporal, verba bantu kāna, dapat ditemukan padanannya dalam bI yaitu dengan verba, adverbial temporal bI; (b) dari segi tataran linguistik penerjemahan, rank of translation, maka pengungkap kala bA yang berupa verba mādī (perfek) dan verba mudāri’ diterjemahkan secara terikat dengan verba bI, begitu pula untuk adverbia temporal, sedangkan untuk verba bantu kāna diterjemahkan secara bebas dengan ‘dulu’, ‘dahulu’, ‘tadi’, atau tidak diterjemahkan sama sekali apabila sudah ada keterangan waktu lain atau dalam kontek kalimat yang telah jelas waktunya.
    Kedua, secara umum pengungkapan kala dalam bahasa Arab dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia walaupun dalam menerjemahkan pengungkapan kala pada kontek-kontek tertentu perlu ditambahkan leksem atau kata keterangan waktu yang sesuai karena dalam bI tidak terdapat pengungkapan kala dalam verbanya. Maka penerjemahan kala bA ke dalam bI hendaknya lebih memperhatikan konteks, siyāq kalimatnya.
    Ketiga, secara rinci, cara penerjemahan pengungkapan kala bA ke dalam bI adalah sebagai berikut: a) kala lampau yang diungkapkan dengan: verba mādī diterjemahkan dengan verba bI padanannya, adverbia temporal bA diterjemahkan dengan adverbia temporal padanannya dalam bI. Adapaun verba bantu kāna dengan verba mudāri’ yang menyertainya diterjemahkan dengan penanda kala lampau bI yaitu ‘dulu’, ‘dahulu’ ; b) Kala Kini yang diungkapkan verba mudāri’ atau verba mādī diterjemahkan dengan verba bI padanannya, begitu pula dengan adverbia temporal; c) Kala mendatang yang diungkapkan dengan: verba mudāri’ diterjemahkan dengan “akan” plus verba bI atau verba bI saja. Prefik “sa-” dan ”Partikel “saufa” diterjemahkan “akan”. Verba mādī, dalam konteks: doa atau pengharapan diterjemahkan dengan “semoga” atau “Mudah-mudahan” dan verba bI padanannya; peristiwa mencontohng diterjemahkan dengan verba bI; kalimat kondisional diterjemahkan dengan “akan” + verba bI, sedangkan relatif “mā” diterjemahkan dengan “akan” plus verba bI , atau verba bI saja.

    DAFTAR PUSTAKA
    Alwasilah, A. Chaedar. 1990. Linguistik: Suatu Pengantar, Bandung: Angkasa

    Badri, Kamal Ibrahim. 1404H, Al-Zaman fi al-Nahwi al-‘araby, Riyadh: Darul Umiyyah.

    Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press

    Fatimah, Djajasudarma. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian, Bandung: P.T. Eresco.

    Ghazala, Hasan. 2006. Translation As Problems and Solutions: A Coursebook for University Students and Trainee Translators. Beirut: Dar Wa Maktabat al-Hilal.

    Hassan, Tammam. 1979. al-Lughah al-Arabiyyah ma’naha wa mabnaha, Cairo: al-Haiah al-Arabiyyah al-‘ammah li-al-Kitab.

    Holes, Clive. 1995. Modern Arabic: Structures, Function and Varieties, New York: Langman Group Limited.

    Lyons, John. 1971. Introduction to Theoretical Linguistics, Cambridge: Cambridge University Press.

    Nur, Tajuddin. 2007. Verba dalam Bahasa Arab dab Bahasa Indonesia: Sebuah Kajian Gramatikal Kontrastif, Yogyakarta: Disertasi UGM.

    No Comments